Pages

Update

Anang – Separuh Jiwaku Pergi

Minggu, 15 November 2009

Separuh Jiwaku Pergi
Memang indah semua
Tapi berakhir luka

Reff:
Benar ku mencintaimu
Tapi tak begini
Kau khianati hati ini
Kau curangi aku

Kau bilang tak pernah bahagia
Selama dengan aku
Itu ucap bibirmu
Kau dustakan semua
Yang kita bina
Kau hancurkan semua


http://pojokalul.blogspot.com

Mencari suasana di tiang-tiang langit kota Makassar

Senin, 09 November 2009

Makassar,`6 November 2009. Menyusuri Makassar melalui aspal yang tak lagi lengang. Kali ini, macet dan berdebu. Makassar tlah macet dan berdebu, mungkin akibat kemarau berkepanjangan yang sedang melanda Makassar. Krisis air dan listrik, Makassar sedang dilanda kemelut akibat kemarau yang berkepanjangan ini.
Namun, kali ini kita tak sedang membicarakan Makassar dengan segala problematikanya. Kali ini saya lebih senang untuk menuliskan dan menceritakan tentang perjalananku hari ini. Menyusuri kota Makassar dan memandang Makassar melalui puncak-puncak tranggulasinya.
Dari tamalanrea menuju gedung graha pena Fajar, langsung saja melalui lift langsung ke puncak. Maaf, lantaran kali ini kita di kota besar, sebaiknya kita gunakan fasilitas yang telah disediakan untuk itu. Kali ini tak sepatutnya kita menjunjung idealisme pendaki, sebaiknya realistis saja. Tangga memang telah disediakan, namun sebaiknya untuk menghemat tenaga dan mengefisiensikan waktu, lift adalah satu-satunya kunci menuju ke puncak yang paling realistis. Maaf, kali ini tak ada tempat untuk idealisme. Realistis mungkin lebih indah saat ini.
Dari puncak graha pena, memandang Makassar dengan segala problematikanya, memandang segalanya yang tampak kecil dari atas, mengingatkanku ketika berada di puncak tranggulasi bawakaraeng, lompobattang dan sekitarnya. Sungguh indah berada di atas ketinggian, mungkin dengan cara seperti ini saya bisa sedikit merefresh pikiranku yang sekarang masih kalut dan galau. Memandang mahaproyek jalan laying disekitaran KM 4, memandang mega proyek Kalla Tower dari kejauhan, memandang gedung rektorat UNHAS, memandang keanggunan Mesjid Al markaz Al islami, memandang monumen Mandala, memandang hamparan laut nan perak ditimpa mentari.
Cukup lama saya berada disana, saya pun segera beranjak meninggalkannya. Suatu saat saya pasti kembali kesana. Kembali kedalam lift, saya menyempatkan diri untuk mengelilingi sudut graha pena, sudut per sudut, lantai per lantai. Dan begitu puas, langsung menuju ke basement.
Tujuan selanjutnya, kali ini pilihan saya jatuhkan kepada mesjid al markaz al islami. Mengagumi keanggunannya, memandangnya dari dekat, sangat dekat. Sejenak saya sandarkan kepalaku di salah satu pilarnya. Hari ini jumat, suasananya begitu ramai. Ramai oleh para jemaah yang kebetulan datang lebih awal untuk menunaikan sholat jumat, ramai oleh para pedagang yang setiap jumatnya datang ketempat ini untuk menjajakan dagangannya. Tanpa berpikir panjang, saya pun menuju ke tempat wudhu, sekedar mensucikan diri dan berharap semoga air wudhu ini bisa memberikan ketenangan bagiku, bisa menyejukkan hati ini, menjauhkanku dari perbuatan yang mungkar dan memberikan jalan yang lapang untuk sekedar berhenti bersuudzon. Setelah selesai berwudhu, kembali kudapati pilar mesjid yang agak sepi, kembali kusandarkan kepalaku, merenungi hari-hari yang telah lalu, meminta petunjuk untuk bisa sekedar melapangkan jalanku menuju pintu taubatNYA. Ya Allah, engkaulah Maha Perkasa.
Mesjid Al markaz semakin ramai, jalanan dan selasar yang tadinya lengang kini telah padat oleh para jemaat yang berlalu lalang dan ada pula yang sekedar menyandarkan bokongnya, mungkin terlalu lelah sehingga harus beristirahat sejenak. Sayangnya, saya Cuma memandangnya dari kejauhan. Saya sudah menemukan tempat yang teduh dan enggan untuk beranjak. Saya mendengarkan sayup-sayup suara yang menghanyutkan hati melalui pengeras-pengeras suara dari tiap-tiap sudut. Saya mendengarkan ceramah jumat kali ini yang entah dibawakan oleh siapa, saya tidak ambil pusing. Dan akhirnya iqamat dikumandangkan, saatnya merapatkan shaf untuk menunaikan 2 rakaat ini. Allahu Akbar!!!dalam hati yang haru saya akui, sudah terlalu lama saya meninggalkanmu yaa Allah.
Assalamualaikum warahmatullah..Assalamualaikum warahmatullah..akhirnya salam dikumandangkan melalui pengeras suara mesjid ini menandakan usai sudah 2 rakaat kali ini. Setelah menunaikannya, saya sempatkan diri untuk sejenak berkeliling mengitari mesjid Al markaz al islami, sudut per sudutnya sembari membayangkan kembali romantisme memori masa kanak-kanakku yang banyak kuhabiskan di tempat ini, hanya sekedar bernostalgia.
Selepas dari mesjid al markaz, kembali saya mendapati legendaku, kendaraan yang selama ini selalu setia menemaniku kemanapun saya mau (dan kemanapun dia MAMPU, hehehe). Dan akhirnya pilihan selanjutnya, saya jatuhkan ke atap GTC . entah kenapa saya memilih tempat ini. Mungkin karena dulu ditempat ini, saya banyak menghabiskan waktu bersamanya atau mungkin juga saya terpacu untuk mendatangi tempat ini disiang hari, disaat mentari bersinar dengan sangat teriknya. Maaf, selama ini saya Cuma mendatanginya di malam hari. Kali ini akhirnya berhasil juga saya mendapati tempat ini dibawah siraman sinar matahari yang terik.
Dari tempat ini, saya bisa memandang hamparan laut dari kejauhan, dari tempat ini saya bisa memandang trans studio berdiri dengan kokoh dari kejauhan, dan banyak sekali yang bisa saya pandang dari sini. Tentunya hembusan angin laut ikut menggetarkan hati dan perasaanku saat ini. Allahu Akbar, nuansa pos 9 lompobattang, pos 8 bulusaraung, dan puncak bawakaraeng serasa saya dapati ditempat ini. Hanya beton yang kupijak yang kembali membuatku tersadar bahwa sekarang saya tidak berada disana. Saya juga akhirnya sempat berpikir, pendaki terkadang menemui ajalnya di gunung, pemanjat terkadang mengakhiri hidupnya melalui peristiwa accidental dari ketinggian. Kira-kira dimana saya mendapatkan anugrah tersebut? Saya mengingat sebuah puisi dari soe hok gie; seorang tokoh yang kugilai dan kupuja sepenuh hati; isinya kurang lebih seperti ini : orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tepat tidur!!! Saya sepakat, GIE!!! Tak pantaslah bagiku untuk mati di tempat tidur. Namun jikalau Penciptaku menginginkan hal yang lain, maka kulafadzkan maknanya dengan ikhlas. Dan jikalau bisa saya meminta, jangan matikan aku ditempat tidur, ya Allah…biarlah raga ini menjadi humus bagi bumi ini dan jiwaku tetap hidup didalam hati orang-orang yang menyayangiku.
Kembali kudapati diriku yang termenung disini..entah dari tempat ini, kemana hendak kulangkahkan kakiku. Saya ingin mengitari kota Makassar sekali lagi, saya ingin mendapati tiap tiang-tiang langit kota Makassar ini, saya ingin mendapati nuansa pegunungan ketika ragaku tak berada disana..
Dan saya masih di atap GTC, kemana lagi hendak kulangkahkan kakiku setelah ini..ya Allah tuntunlah langkahku, berkatilah hambamu ini, Ya Allah…

Naff - Kenanglah aku

Minggu, 08 November 2009

Karamnya cinta ini
tenggelamkanku di duka yang terdalam
hampa hati terasa
kau tinggalkanku meski ku tak rela

salahkah diriku hingga saat ini
ku masih mengharap kau tuk kembali

mungkin suatu saat nanti
kau temukan bahagia meski tak bersamaku
bila nanti kau tak kembali
kenanglah aku sepanjang hidupmu

back to top

mungkin suatu saat nanti
kau temukan bahagia meski tak bersamaku
bila nanti kau tak kembali
kenanglah aku sepanjang hidupmu


Mengomentari Perjalanan I

Kamis, 05 November 2009


Kali ini sebuah perjalanan membuang diri. Perjalanan yang mengantarkan kakiku ke suatu lembah yang kerap oleh segelintir pendaki sering diplesetkan sebagai lembah putus cinta. Maaf, kali ini saya tidak sedang berada dalam kondisi demikian. Namun, mungkin perihnya bisa jadi serupa rasanya apabila saya bisa goreskan dalam catatan ini. 30 oktober 2009, tengah hari selepas sholat jumat. Kami bertujuh bertolak dari Makassar menuju Desa terakhir menuju kaki gunung bawakaraeng. Namun, sebelumnya kami menyempatkan diri untuk singgah ke SMU Neg 5 Makassar. Bagi teman-teman, kesempatan ini dipergunakan untuk sekedar membeli air mineral dan beberapa bungkus rokok. Lain halnya bagi saya, kesempatan ini saya pergunakan untuk menemuinya, sekedar pamit dan memberi sebuah kecupan di keningnya. Mungkin bisa jadi itu adalah kecupan terakhir dariku untuknya, tak ada salahnya saya berpikiran seperti itu mengingat resiko bagi seorang pendaki adalah menemui penciptanya di gunung pula, dalam dekapan sang Alam.

10 menit, Cuma 10 menit waktu bagiku untuk menemuinya. Setidaknya memberi spirit tersendiri bagiku. Entah apa yang ada dalam benaknya. Bertolak dari SMU Neg 5 Makassar, kami pun melanjutkan perjalanan melalui jalur Aroepala – Malino. Sebelum tiba di Malino, kayaknya Alam menyambut kami dengan air hujannya seolah menggambarkan suasana haru bagiku karena meninggalkannya seolah untuk selamanya dan perasaan haru untuk segera kembali melepaskan rinduku diasah oleh angin dingin pegunungan. Sekedar berteduh, kami menemukan sebuah warung gorengan dan disanalah kami sejenak berhenti dan menikmati gorengan danbeberapa gelas minuman hangat. Lumayan untuk sekedar menghangatkan suasana yang dingin oleh hujan yang mengguyur bumi saat itu.

30 menit, hujan pun reda, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di desa lembanna sebelum magrib. Ternyata jalur Kampung Beru – Lembanna sudah beraspal, kawan. Dengan demikian, kami pun tak perlu lagi untuk turun dari motor dan berjalan kaki sekitaran 30 menit untuk tiba di Lembanna dari Kampung Beru. Saya tidak mengerti, apakah hal tersebut adalah berita gembira ataukah berita buruk bagi kawan-kawan pendaki lainnya. Pikirku, mungkin berita buruk bagi mereka yang merasa kehilangan pemanasannya. Namun bagiku, tak ada salahnya berpikiran positif karena dengan ini, penduduk Lembanna dapat dengan mudah untuk mengangkut hasil kebunnya. PELAJARAN PERTAMA : “Tak ada salahnya berpikiran positif!!!”

Setibanya di Lembanna, kami pun merapatkan diri ke sebuah rumah milik seorang yang sangat familiar, bersahabat, dan bersahaja. Kami memanggilnya Tata’ Rasyid, orang tua bagi kami dan juga bagi ratusan bahkan ribuan pendaki lainnya. Tata’ Rasyid memang sangat akrab dikalangan pendaki mengingat beliau dengan bangganya mengabdi kepada Alam Bawakaraeng dengan mengabdikan dirinya sebagai Penolong bagi mereka yang tertimpa musibah disana. Oleh Tata’ Rasyid kami menemukan PELAJARAN KEDUA : “Ikhlas berbuat semata-mata Karena ALLAH SWT!!!”Luar biasa, tata’…semoga Allah SWT senantiasa memberikan Pertolongannya kepada Sang Penolong Kita.

Desa Lembanna, Desa yang berada di kaki gunung Bawakaraeng merupakan desa yang sangat Subur Tanahnya, Ramah warganya, penuh dengan suasana kekeluargaan. Disanalah kami menghabiskan waktu semalam untuk sekedar beristirahat, mengumpulkan tekad dan tenaga untuk kembali melanjutkan perjalanan keesokan harinya menuju Lembah Ramma’. Untuk menuju Ramma’, jalur yang ditempuh tetap melalui gerbang Pos Berdoa (sejalan dengan arah menuju puncak Bawakaraeng) namun, akhirnya jalur terbagi dua pada Pos I Bawakaraeng yang mana sebelah kiri menuju ke Puncak Bawakaraeng sedangkan jalur yang kanan akan menuju ke Lembah Ramma’.

Malam itu, Malam Sabtu 31 Oktober 2009, kami menghabiskan bulan oktober 2009 di desa yang indah ini. Menikmati makan malam yang nikmat dan beberapa gelas kopi penangkal hawa dingin pegunungan. Musim kemarau berkepanjangan ini menghembuskan angin dingin yang mampu menembus Jaket yang kukenakan. Selepas makan malam, kami kembali berbincang dengan Tata’ Rasyid. PELAJARAN KETIGA kami temui pada kesempatan itu : “Tak ingin Terkenal namun ingin selalu Dikenang.” Setidaknya prinsip itulah yang membuatnya tetap tegar melakoni hidupnya yang bersahaja namun bermakna. Perbincangan malam itu berlangsung singkat namun memberikan hamparan makna yang luas bagi kami.

Dalam Suasana yang Dingin Saya memberikan diri untuk keluar sekedar mencari Sinyal untuk menghubunginya. Dapat, namun Putus-putus menghasilkan Perbincangan rindu yang terputus-putus. Saat itulah saya merasakan lemah dan rapuh tanpa kehadirannya, disanalah saya menemukan fakta bahwa saya memang benar-benar mencintainya.Astri.
Dalam pencarian sinyal tersebut, saya juga menyempatkan diri untuk mengetok pintu Tata’ Rappe sekedar bertanya, “Apakah Teman-teman saya Dari MAHESA telah Tiba??” jawaban dari dalam : “Belum”. Saya pun kembali mencari sinyal, berhasil..namun, kali ini rasa kantuk darinya tak bisa ditahannya.kecewa berat melandaku. Dalam perasaan yang sedih kulangkahkan kakiku menuju ke rumah tata’ rasyid.

Sekitaran 30 menit kemudian, pintu tata’ Rasyid diketok. Ternyata kami kedatangan tamu yang taka sing bagiku. Saudara seorganisasi, Karmani, yude’ dan feby. Sekedar mengabarkan bahwa rombongannya telah tiba dan merencanakan melakukan perjalanan malam itu juga. Berani dan beresiko menurutku, namun bagi tata’, PELAJARAN KEEMPAT diungkapkannya : “Sama Tujuan namun berbeda Rejeki”, sekiranya hamparan makna itu membuka mata kami keesokan harinya bahwasanya setiap manusia memang telah diberikan rangkaian takdir oleh sang pencipta.

Setelah melepas rombongan karmani dkk, kami pun mengambil inisiatif untuk beristirahat dan melepas lelah. Suasana yang sunyi dan angin malam turut memberi andil bagi kami untuk segera memejamkan mata. Akhir Oktober – Awal November kami dapati di bawah atap rumah Tata’ Rasyid.

Keesokan harinya, setelah sarapan dan packing ulang, tepat jam 10 pagi kami pun pamitan kepada Tata’ Rasyid untuk melanjutkan perjalanan menuju lembah Ramma’. Dan seperti biasanya, selaku orang tua dan Sebagai seorang yang berpengalaman beliau pun tak henti-hentinya mengingatkan kami untuk selalu berhati-hati dan jangan berpisah dalam perjalanan. Pada kesempatan itu, PELAJARAN KELIMA : “Jikalau kamu mencintai Gunung, apabila hujan badai datang maka mundurlah, gunung takkan berpindah tempat. Namun Jikalau Gunung Mencintaimu, maka tinggallah untuk memberikan kesuburan bagi tanahnya, tinggallah dalam dekapannya menuju Sang Pencipta”.
***

Katakan Iya kepada perbedaan, bukan mengingkarinya..

Selasa, 27 Oktober 2009

Seseorang barulah dikatakan hidup apabila dirinya dapat mengetahui adanya gejolak dalam ruang pikirnya. Seseorang juga dapat dikatakan hidup apabila dirinya dapat menyikapi apapun yang melingkupinya, walaupun samar. Namun, apakah seseorang tersebut dapat mengingkari bahwa sebenarnya yang membuat dirinya bergejolak adalah sebuah perbedaan?

Memaknai perbedaan lebih terletak kepada kemauan seseorang untuk mengakui perbedaan tersebut. mengakui perbedaan justru terletak pada keleluasaan ruang pikir seorang manusia. Memahami perbedaan tak dapat dipungkiri tidak bisa terlepas dari bingkai sebuah persamaan. Sesuatu barulah dikatakan berbeda apabila tak memiliki sebuah unsur yang sama dengan objek yang lainnya.

Namun, apakah kita pernah sadar bahwasanya sebuah perbedaan adalah sebuah kekuatan yang maha dahsyat? Jikalau kita mampu untuk mengelolanya dengan baik, maka tentu saja perbedaan tersebut dapat menghasilkan sebuah daya yang hebat. Indahnya sebuah persamaan apabila didalamnya terdapat perbedaan yang terkontrol. Melalui sebuah perbedaan, akan didapatkan sebuah rumusan yang gemilang. Didalam sebuah perbedaan, akan tersalurkan sebuah pola konstruktif yang canggih. Segalanya akan indah apabila terdapat sebuah perbedaan. Tak akan didapatkan sebuah persamaan tanpa memandang sebuah perbedaan. Perbedaanlah yang membuka mata hati dan pikiran kita untuk membuka wacana dan memandang suatu objek dari segala sudut pandang. Melalui perbedaan akan didapatkan sebuah persamaan yang kokoh.

28 Oktober, yang kita peringati setiap tahunnya sebagai hari sumpah pemuda, sebuah gerak langkah sebuah persatuan yang dilandasi oleh sebuah pernyataan sikap untuk mau mengakui dan menangguhkan perbedaan. Tentu saja kita tahu, tanpa kebesaran hati kita untuk mau mengakui perbedaan, tak akan dihasilkanlah sebuah persatuan bangsa ini, tak akan dihasilkanlah semboyan yang bukan hanya sekedar slogan. “berbeda namun tetap satu jua”. Berbeda yang membuat kita indah.

Perbedaan apabila disikapi dengan bijak akan menghasilkan sebuah persamaan yang indah, sebuah pola konstruktif yang mampu untuk membangun sikap solidaritas yang idak buta namun kritis. Namun, apabila tidak disikapi dengan bijak, hanya dipandang melalui satu lensa kacamata, hanya akan menimbulkan pola destruktif yang maha dahsyat, yang mampu merontokkan sendi-sendi kemanusiaan. Tentunya kita masih ingat, dan tentu saja kita berharap tidak terulangnya beberapa tragedi kemanusiaan yang dihasilkan oleh lepasnya sikap bijak kita dalam memandang sebuah perbedaan.

Seharusnya, saat ini kita mulai untuk belajar, mau mengakui dan menyikapi perbedaan ini dengan bijak dari segala sudut pandang. Perbedaan itu indah apabila kita mau dan mampu untuk mengelolanya. Perbedaanlah yang menjadi warna yang indah dalam dinamika hidup umat manusia. Tuhan tentu saja memiliki maksud yang indah atas makna ini. Bayangkan apabila dalam kehidupan ini semuanya serba seragam!!!

Mulai sekarang mulailah untuk mengatakan iya terhadap perbedaan, tak ada kuasa kita untuk mengingkarinya sebab itu adalah fitrah!!! Perbedaanlah yang selama ini melingkupi ruang hidup kita yang mampu menjadi gejolak dalam ruang pikir kita, yang mampu untuk membuka wacana tentang arti sebuah persamaan. Perbedaanlah yang member arti terhadap pentingnya nilai sebuah persatuan. perbedaanlah yang menjadi tonggak bagi kemerdekaan bangsa kita.karena berbeda kita merdeka, karena berbedalah kita indah, karena berbedalah bangsa kita kaya, Karena kita bangsa yang beragam.
Katakan iya terhadap perbedaan, bukan mengingkarinya. Karena didalam perbedaan inilah maka kita sadar bahwa kita itu ternyata sama. Berbeda itu indah. Selamat memperingati hari sumpah pemuda.

Vierra - Perih

Minggu, 25 Oktober 2009

Dirimu…
tak pernah menyadari
semua…
yang telah kau miliki

kau buang aku, tinggalkan diriku
kau… hancurkan aku seakan ku tak pernah ada

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih… walau perih…

salahkah…
aku terlalu cinta
berharap..
semua kan kembali

kau buang aku,tinggalkan diriku
kau.. hancurkan aku
seakan ku tak pernah ada

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih… walau perih…

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih…

Aku kan bertahan
meski takkan mungkin
menerjang kisahnya
walau perih… walau perih…
walau perih….walau perih…

Kuyakin alam bisa memanipulasi perasaan ini

Sabtu, 24 Oktober 2009

Menemukan Cinta Sejati mungkin sesuatu yang biasa saja bagi segelintir orang. menemukan cinta sejati kemudian ditinggalkannya, juga bukan hal yang special bagi segelintir orang. Namun, menemukan cinta sejati lalu ditinggalkannya ketika kita berada dalam kondisi yang sedang rapuh, itu bukanlah hal yang biasa bagiku.

Tiada hal yang paling realistis yang kami tempuh adalah berpisah. Tiada pula sedikitpun terbersit perasaan menyesal dalam lubuk hati ini. Tak pula ada dendam bagiku.

Focus dan konsentrasi kepada masa depan merupakan sebuah motivasi dan memperbaiki diri kini adalah suatu hal yang menjadi kemutlakan untuk mewujudkannya. Tak ada tangis kali ini. Tak ada tetes air mata yang berderai. Tak ada guna untuk menangisi keadaan ini. Sekarang waktunya bangkit, berdiri dan menegakkan kepala menatap masa depan yang hampir saja pupus seiring kepergianmu. Kamu memang meninggalkanku disaat diri ini rapuh dan melemah. Tetapi kesedihan inilah yang kini menjadi kekuatan bagiku untuk maju dan melangkah kembali melanjutkan hidup.

Sebuah janji yang akan selalu terngiang dikepalaku akan selalu kukenang dan berusaha untuk menepatinya. Aku akan kembali kepadamu dimasa yang akan datang sebagai sosok yang lebih baik. Aku mencintaimu, dan itu untuk selamanya. Tlah kukunci pula perasaanku kepadamu.

Kamu memang meninggalkanku disaat ku rapuh, dan hal itulah yang menjadi pelajaran bagiku untuk tetap bertahan dan yakin kepada pilihan hati. Takkan kusiakan perasaan ini kepadamu dan takkan kubiarkan sesuatu pun menyakitimu. Ketika kau melemah, datang dan bersandarlah kepadaku. Ketika kau pun lelah, datang dan mendekaplah kepadaku. Pintu ini akan slalu terbuka untukmu. Kamulah pemegang kuncinya. Kamulah pemiliknya. It’s all about love for azt…it’s all about you.

Sedikit mengutip sebuah ungkapan dari Soe Hok Gie :

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Akan begitulah diriku kepadamu, akan begitulah selamanya.

Dan sekarang, obat terampuh yang kurasa bisa menyembuhkanku adalah kembali ke pangkuan alam, setidaknya bisa mengurangi sakit yang kuderita. Percayalah, selepas ini pun aku masih akan selalu mengenangmu, selamanya.

Setidaknya alam bisa membantuku untuk memanipulasi perasaan ini, rasa sakit ini, sehingga kubisa melanjutkan hidup, mengejar cita-cita kita bersama, sehingga kelak bisa kutepati janjiku, kuwujudkan cita-cita kita bersama.

Dan kelak, masa itu tlah tiba, ku mau tak seorang pun menghalangi kita. Ini doa yang terindah yang pernah kuucap. Inilah cita-cita tertinggi yang pernah kuimpikan. Hanya untukmu, hanya bersamamu.selamanya.


http://pojokalul.blogspot.com

Sebuah Tanya

Selasa, 20 Oktober 2009


akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru

(Soe Hok Gie)

Hanya Sebongkah Batu, Bukan Logam Mulia

Senin, 19 Oktober 2009

Anda mungkin tidak perlu menangis agar dapat mencerna tulisan ini, tidak perlu juga anda membaca dengan teliti agar dapat memahaminya..

Anda cukup membuka mata hati anda untuk dapat mengerti bahwa perih dan sakit yang anda dapatkan ketika anda sadar bahwa sesuatu yang berada disekeliling anda kini telah berpindah tempat. Tidak lagi pada posisi yang biasa anda maklumi.

Anda cukup membuka mata hati anda untuk dapat mengerti bahwa sesuatu apapun itu barulah terasa arti keberadaannya ketika sesuatu itu hilang ataupun beranjak meninggalkan anda. Betapapun anda mencarinya, tak akan pernah bisa menggantinya dengan sesuatu apapun itu.

Anda mungkin bisa mendengarkan kisah ini, tapi anda tak perlu untuk meneteskan airmata agar bisa menangkap pesan yang tersirat didalamnya. Belajar memaknai hidup, akan berarti pula belajar untuk memaknai arti kehadiran, pertemuan, perpisahan dan ketiadaan.

Berbicara tentang perpisahan, Banyak orang yang mampu untuk belajar dengan cepat, namun banyak pula tenggelam dan larut dalam kesedihannya. Ada orang yang mampu memaknai serta mengendalikan perpisahan tersebut, namun ada pula orang yang tak berdaya memaknainya bahkan tergerus dalam ombak kesedihan.

Anda dan saya mungkin adalah sebuah cermin refleksi yang menggambarkan dengan nyata peristiwa kontradiksi ini. Anda dan saya ternyata sama. Ketika saya terlarut dalam kesedihan ini, ternyata anda sudah terlebih dahulu mendiami lembah ini. Dan hal itulah yang sebenarnya membuat ombak ini tak kunjung reda. Namun juga, anda dan saya juga ternyata berbeda dalam membijaksanai perpisahan ini. Ketika saya larut didalamnya, anda telah berhasil untuk sekedar memanipulasi perasaan anda. Berpura-pura tegar dan kelihatan tegak, namun saya takjub dan menganggap anda hebat. Setidaknya dalam hal itu, tak mampu saya untuk berbicara banyak.

Lebih jelas lagi saya gambarkan, peristiwa ini telah memberikan hamparan makna yang tak jua saya temui di tempat yang lain. Betapa berharga arti kehadiran dalam roda kehidupan seseorang. Gelombang motivasi dan tempat berbagi tentu saja memberikan spirit tersendiri dalammenikungi hidup (saya bahasakan menikungi setelah lelah menjalaninya dengan lurus).

Makna yang terbesar yang saya temukan dari serangkaian tantangan ini adalah, ternyata betul tak ada manusia yang keras dan tangguh. Tak ada satu pun manusia. Jikalau dapat saya analogikan, ternyata batu bukanlah logam mulia, dia Cuma sebongkah batu yang berada di dalam goa yang ditetesi air secara teratur sehingga mengakibatkan lubang pada sumbu yang sama, semakin lama akan semakin besar. Ketika tiba waktunya air berhenti menetes, batu pun merana dan menangisi kemana gerangan air yang selama ini menetesinya. MENYESAL..(sebuah kata yang jikalau dapat saya tuliskan sebagai padanan kata) batu pun menyesali dirinya yang ternyata bukan sebuah logam mulia. Ketika mencari kemana air yang selama ini menetesinya, namun tak ada satu pun benda yang mampu memberikan petunjuk kepadanya. Dan akhirnya batu pun memimpikan dirinya sebagai sebuah logam mulia sembari menantikan waktu yang datang menggerus dan mengikis dirinya hingga akhirnya rapuh dan menjadi debu. Namun, dirinya tetaplah bukan logam mulia.

Setelah ini saya yakin, ada setitik terang cahaya yang mendekapku. Anda betul, TUHAN tak akan mencoba kita tak mampu untuk melaluinya. Seketika masalah ini menderaku, semakin terkuras pula energiku dan pikiranku untuk sekedar mencari jalan untuk mempertahankannya. Tak akan kusiakan kesempatan ini, secuil apapun itu. Dan sekarang saya masih terus berjuang untuk itu. TUHAN selalu beserta orang-orang pemberani.

Jadi, anda memang betul-betul tidak perlu menangis agar dapat mencerna keadaan ini. Perpisahan kali ini ternyata memberikan makna untuk sebuah perjumpaan yang lebih hangat di masa akan datang. Ketika itu terangkai bersama akan mengoreskan senyum menggantikan sendu kali ini.

Saya Adalah Seorang Mahasiswa Tingkat Akhir

Selasa, 13 Oktober 2009

Oktober, bulan ke sepuluh dalam kalender Masehi yang dapat berarti juga adalah sebuah kesempatan terakhir untuk mengikuti ujian terakhir atau yang akrab dikenal dengan nama ujian meja dalam sebuah kalender akademik yang telah ditetapkan oleh universitas. Dalam bulan oktober pula, kalangan militer memperingatinya sebagai bulan yang bersejarah yan mana pada salah satu hari didalamnya diperingati sebagai hari jadi Angkatan bersenjata Republik Indonesia. 5 oktober, dirgahayu ABRI. Tak ada peran yang tak penting didalam republik ini, dan sebagai seorang mahasiswa, Satu-satunya korelasi yang dapat ditemukan antara Hari Jadi ABRI dengan kondisiku saat ini adalah semangat juang dan jiwa Nasionalisme Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang telah menularkannya kepadaku sehingga termotivasi untuk segera menyelesaikan studiku saat ini. Dan sebagaimana yang telah ditetapkan adanya bahwa, seorang Mahasiswa diwajibkan membuat sebuah Skripsi untuk memenuhi salah satu persyaratan guna memperoleh gelar sarjana.

Namun, di bulan oktober ini pula ketika hampir semua mahasiswa tingkat akhir sedang bergelut dengan tugas akhirnya atau yang akrab kita sebut dengan istilah Skripsi, ketika hampir semua mahasiswa tingkat akhir membiasakan diri dengan istilah ‘menyusun’ sambil tersenyum tentu saja, ketika jiwa dan raga terpanggil untuk segera menuntaskan tugas mulia ini, Makassar dan sekitarnya mengalami pemadaman listrik bergilir. Ketika baru saja hendak menyalakan monitor komputer, ketika semangat menggebu-gebu untuk segera mengerjakannya, Makassar gelap gulita. Tugas akhir pun tertunda untuk beberapa waktu kemudian, mungkin untuk 2 hingga 3 jam ke depan. Ketika mencoba mengakali keadaan ini untuk segera menuju ke tempat teman sekedar menumpang mengetik, disanapun dapat dijumpai keadaan yang sama. Pemadaman lstrik bergilir, mengapa di bulan oktober?

Tidak sedikit sumpah serapah yang sempat terekam oleh indera pendengarku. ketika membuka situs jejaring sosial, hal yang sama pun tertuang disana. Sumpah serapah, caci maki, hinaan, ocehan, celaan, keluhan, bahkan teriakan histeris pun tak sedikit yang kujumpai di bulan ini. Apa yang salah dengan bulan ini? Ketika mencoba bijak terhadap keadaan ini, kutelusuri google untuk mencari penyebab dari semua ini, satu alasan yang pasti dan sangat masuk akal bagi saya untuk memberikan predikat sebagai alasan yang terbaik. ‘ketidakseimbangan cuaca oleh pemanasan global mengakibatkan debet air pada pembangkit listrik yang diharapkan mampu menyuplai tenaga pada pembangkit listrik tenaga air tidak mencukupi untuk memutar turbin yang mampu mengubah dari energi gerak menjadi tenaga listrik, begitulah kira-kira.

Saya tidak memaki, tidak pula mencela, apalagi sampai berteriak histeris. Saya cuma menyayangkan, apabila mencermati konsep sebab dan akibat, pemadaman ini cuma merupakan akibat dari segala kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipungkiri bahwa kita pun juga memiliki andil didalamnya. Pemakaian energi dan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak sewajarnya, pola konsumsi yang serakah merupakan sebab dari segala kerusakan ini. Seharusnya dalam keadaan seperti ini, hal yang paling pertama yang harus dilakukan adalah mau mengerti. Bahwa, sewajarnya sebagai warga Negara yang baik kita setidaknya mampu memberikan dukungan secara moril kepada pihak yang terkait agar bisa segera terlepas dan menyelesaikan kemelut ini. Pihak yang terkait pun juga jangan sampai menutup mata atas keadaan ini. Sebagai pihak yang telah diamanahkan untuk mengelola hajat hidup orang banyak, seharusnya masalah ini jangan sampai dibiarkan berlarut-larut. Kasihan rakyat yang telah melaksanakan kewajibannya membayar iuran setiap bulannya dan harus merelakan perabot listriknya yang rusak karena pemadaman bergilir ini, kasihan Mahasiswa Tingkat Akhir yang diamanahkan untuk segera menuntaskan tugas mulianya sebagai warga Negara yang baik, yang diharapkan dapat berguna bagi kemajuan agama, nusa dan bangsa.

Saya tidak memaki, tidak pula mencela, apalagi sampai berteriak histeris. Saya cuma menyayangkan, sampai sekarang skripsi ini masih tergantung. Skripsi lambat selesai, akibat pemadaman bergilir. Bukan alasan klasik, namun konyol apabila sampai diutarakan kepada para pembimbing skripsi. Begitulah kira-kira, tulisan ini saya buat bukan sebagai pembenaran atas kemalasan seorang mahasiswa tingkat akhir, bukan pula karena turunnya semangat juang untuk segera menuntaskan tugas mulia ini. Untuk sekedar teman-teman ketahui, sampai sekarang seorang mahasiswa tingkat akhir ini masih terus berjuang untuk menyelesaikan tugas akhirnya ditengah keadaan kota Makassar yang sedang mengalami pemadaman listrik bergilir, mencoba membijaksanai keadaan ini dengan berbagai metode. Termasuk metode nomaden atau hidup(mengetik) berpindah-pindah berbanding kontra mengikuti ritme pemadaman listrik.

Saya, Mahasiswa tingkat akhir yang sementara berjuang menyelesaikan tugas akhir guna memperoleh gelar sarjana. Mahasiswa tingkat akhir ini mengilustrasikan dirinya sebagai laron-laron yang bergerak dan berkumpul mengelilingi bola lampu yang memancarkan cahaya. Dan tentu saja hal itu berarti, saya tak sendirian. Ternyata banyak Mahasiswa tingkat akhir yang berjuang untuk menyelesaikan tugas akhirnya ditengah keadaan kota Makassar yang sedang mengalami pemadaman listrik bergilir, yang juga mencoba membijaksanai keadaan ini dengan berbagai metode. Dan dengan segala usaha telah ditempuh, maka dengarkanlah Yaa ALLAH, raja yang menguasai segala makhluk di dunia ini (termasuk laron-laron dan mahasiswa tingkat akhir), terangilah kembali kota Makassar, tunjukkanlah jalan bagi kami agar terselesaikan permasalahan ini berdasarkan kehendakMu; agar tak ada lagi perabotan yang rusak; agar tak ada lagi Sumpah serapah, caci maki, hinaan, ocehan, celaan, keluhan, bahkan teriakan histeris; agar semakin cepat selesai skripsi ini sehingga seorang mahasiswa tingkat akhir dapat segera menjadi seorang sarjana yang baik dan berguna bagi kemajuan agama, nusa dan bangsa. Yaa ALLAH, sesungguhnya Engkau adalah maha pengasih, maha penyayang, maha adil dan maha bijaksana, mendengarkan doa hambaNya yang teraniaya. Kabulkanlah doa kami ini Yaa ALLAH, Amin Yaa Robbal Alamin.

11 Ramadhan 1430 H

Selasa, 01 September 2009

(Membalut Luka Dari Tetangga Dengan Senyuman..)

“…Inilah kisahku semalam di Malaysia..
Diri rasa sunyi,
aduhai nasib..
Apalah daya..”



11 ramadhan 1430 H, sembari mendengarkan tembang lawas. sempat merenungkan kondisi kekinian bangsa ini. Negara Tetangga oh Negara Tetangga, namamu membumi di setiap sudut pembicaraan yang kutemui belakangan ini. Setiap membuka berita, Negara Tetangga, kau kembali hadir sebagai headlinenya. Urusan klaim mengklaim hingga caci maki tak pernah lepas dari namamu di setiap sela-sela diskusi yang kujumpai.

Ketika sipadan-ligitan direbut secara telak oleh Negara Tetangga dari pangkuan ibu pertiwi, Ketika beberapa warisan bangsa Indonesia secara mentah-mentah diklaim sebagai warisan asli budaya Negara Tetangga, dan yang paling memprihatinkan ketika Lagu kebangsaan INDONESIA RAYA yang merupakan kehormatan dari bangsa Indonesia secara biadab telah diganti liriknya secara kasar (INDON SIAL) oleh sejumlah oknum dari Negara tetangga kita itu yang menandakan bahwa mereka dengan sengaja menginjak-injak kehormatan bangsa kita.

Dan akhirnya, ketika kesabaran telah menipis, ketika kehormatan telah dilanggar, kemarahan pun tak dapat lagi di bendung, meledaklah psywar.. rakyat pun baik yang paham maupun yang tak paham tak dapat lagi menahan emosinya membalas semua itu dengan cemohan, cacian, umpatan kepada Negara tetangga kita itu. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah dengan mencaci maki segala permasalahan itu bisa terselesaikan? Justru dengan membalas dengan hinaan, Negara tetangga semakin berapi-api untuk menambahkan kayu bakar dalam tungku konflik ini.
11 ramadhan 1430 H, sengaja saya memakai penanggalan ini sebagai pengingat bahwasanya sekarang ini kita masih dalam nuansa ramadhan, bulan yang suci bagi umat muslim yang notabene menjadi agama yang mayoritas diantara dua Negara yang bertikai. Tak malukah kita saling menghina di saat berkah ramadhan tercurah dimana-mana?

Tak adakah upaya lain yang bisa kita tempuh untuk menyelesaikan konflik ini? Apakah Pemerintah tak mampu untuk sekedar memberikan peringatan kepada Negara tetangga kita atas perlakuan mereka yang telah diluar batas? mengapa kesejukan ramadhan pun tak mampu untuk meredakan konflik ini?

Pada kondisi seperti inilah, dibutuhkan peran pemerintah untuk menyelesaikan konflik ini melalui jalur diplomasi atau jalur apapun itu. Adapun sebagai warga Negara dari bangsa ini kita seharusnya mendukung pemerintah dalam menyelesaikannya, bukannya membalas perbuatan hina Negara tetangga kita dengan balasan yang lebih hina lagi. kembali renungkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang berbudi luhur, tak sepantasnya kita mencorengnya dengan cemohan. Reaksi kemarahan boleh, tetapi Lakukan dengan bijak. ingatlah bahwa nama besar bangsa kita sebagai bangsa yang ramah tamah warganya. Seharusnya ada sebuah kerja sama yang apik antara pemerintah dan warga Negara dalam menyelesaikan konflik ini.

Sebagai warga Negara dari bangsa ini, kita seharusnya kembali bangun dari tidur yang panjang ini. Kembali sadari bahwa bangsa ini memiliki warisan kekayaan alam dan budaya yang melimpah yang seharusnya kita jaga dan lestarikan. Upaya yang terbaik bagi kita sebagai warga Negara untuk kembali membuktikan bahwa budaya bangsa kita yang telah dicuri adalah benar-benar milik kita seutuhnya adalah dengan Kembali menggalakkan sektor ini yang merupakan upaya terbaik daripada kita ikut-ikutan untuk mencemoh Negara tetangga kita. Seharusnya kita bangga untuk mengenakan, menggunakan, dan mengakuinya sebagai identitas bangsa kita yang sebenarnya. Seharusnya kita mau dan tak malu untuk membawa identitas kita di pentas dunia. Seharusnya kita membuka mata dunia dengan membuktikan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah tamah dan berbudi luhur dan bukan sebagai bangsa teroris dan Negara bertabur terror seperti yang telah dituduhkan kepada bangsa kita oleh bangsa lain. Seharusnya kita membalas semua perbuatan hina mereka dengan sebuah tindakan nyata yang lebih mulia. Lestarikan kekayaan alam dan budaya bangsa kita.

Semoga kesejukan Ramadhan ini bisa meredakan suasana yang panas ini. Dan di saat menulis kalimat-kalimat terakhir ini, sebuah lagu yang menggetarkan hati ikut mengisi ruang dengarku dan akhirnya kuhadirkan dalam catatan ini sebagai penutup dengan harapan bisa menjadi motivasi bagi setiap orang yang membacanya untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dan mulia….


“ Indonesia Tanah air beta..
pusaka abadi nan jaya..
Indonesia sejak dulu kala..
slalu dipuja-puja bangsa..
disana tempat lahir beta..
dibuai dibesarkan bunda..
tempat berlindung di hari tua..
sampai akhir menutup mata.. ”


Makassar, 01 September 2009

Mempertegas PROKLAMASI, Mengembalikan Potret Pemberani

Jumat, 14 Agustus 2009

Salam Lestari!!!

Satukan langkah dalam gerak monumental peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Di Tiap Penyanggah Langit Indonesia.
Pertegas Eksistensimu dalam sebuah karya nyata dan langkah revolusioner.
wajah dan citra PENCINTA ALAM harus dikembalikan.
MERDEKA!!!
TUHAN selalu Bersama Orang-Orang PEMBERANI.

Seribu Rupiah

Kamis, 13 Agustus 2009

Anda tahu uang seribu rupiah ? he..he pertanyaan bodoh…. Saya yakin semua sudah pernah pegang dan punya pecahan rupiah ini. Kalo belum pernah, mending gak usah baca postingan ini. Sia-sia..
Tapi apakah anda pernah memperhatikan dengan seksama ada yang unik pada duit ribuan itu.

Nggak percaya? Ok semua sekarang keluarkan dompetnya dan ambil uang seribuan ayo..ayo..cepet.

Dalam uang kertas seribu rupiah terdapat dua gambar. Di sisi satu adalah gambar Kapitan Pattimura, yang nota bene bergelar Pahlawan yang berasal Maluku.
Adapun keunikan secara fisik pada sisi ini:

* Pertama yaitu kapitan pattimura berpose tersenyum dan ramah, tapii… bawa parang terhunus, siapa yang bikin yah desain gambar pahlawan ini (kayak nggak ada pose yang lain saja...
Kalau nggak salah denger ini pernah di kritik sama beberapa orang termasuk mantan cawapres Siswono Yudho Husodo.

Perhatikan gambar Kapitan Pattimura lagi dan arahkan pandangan anda di kancing baju yang bawah dekat dengan golok/parang, kalau susah pakailah kaca pembesar atau mikroskop. Yup anda betul bukankah itu si Mr. Smiley :)
Mungkin sebenarnya si desainer uang ini tidak bermaksud demikian, tapi yang terjadi adalah bentuk Smiley ini tercetak di semua lembaran uang seribu rupiah yang beredar

Di sisi yang lain adalah gambar Pulau Maitara dan Pulau Tidore yang berada di Maluku Utara. Nah, tahukah anda bahwa gambar Pulau Maitara dan Pulau Tidore tersebut konon katanya dilukis dari balkon sebuah restoran? Restoran tersebut berada di pinggir kota Ternate. Restoran yang bernama Floridas itu, terletak di tepi jurang di belakang pantai.

* Denger-denger gambar laut dan pulau di bagian belakang uang seribu di lukis dari sebuah kafe bernama Florida, tapi ternyata setelah ada yang mencoba memfoto dari kafe yang di maksud hasilnya ternyata berbeda. Kemungkinan diambil dari sisi yang lain. Untuk lebih jelas lagi tentang gambar belakang anda bisa melihatnya di SINI !
Bagaimana pendapat anda? Tidak sama bukan? Lukisan di uang menggambarkan kalau pelukis berada di sudut pandang yang lain dari sudut pengambilan gambar kamera saya. Gambar nelayan yang ada disitu juga membuktikan kalau pelukis berada di posisi yang sama tinggi dengan pelukis. Sementara kalau di balkon, perahu nelayan akan terlihat dari sudut sekitar 45 derajat lebih tinggi.

Anyway, terlepas dari usaha pembohongan publik dari pihak yang saya sendiri juga tidak tahu, restoran ini layak untuk anda kunjungi. Menu Udang Asam Manis, Air Guraka dan Es Kelapa Muda dengan Gula Merah terlalu menggiurkan untuk anda lewatkan begitu saja.

Bener-bener unik kan duit seribu kita … !
Atau anda masih tahu keunikan lain yang belum terungkap ?

Rupiah Menguat Lagi

Setelah kemarin sempat melemah tajam, nilai tukar rupiah kembali dibuka menguat. Jika pasar saham kembali membaik, maka rupiah diprediksi akan meneruskan penguatannya.

Pada perdagangan Kamis (13/8/2009), rupiah dibuka menguat lagi ke 9.960 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level 9.995 per dolar AS.

Sementara dolar AS bergerak variatif setelah Bank Sentral AS (The Fed) dalam pertemuannya selama 2 hari memutuskan untuk mempertahankan suku bunga rendah di kisaran 0% hingga 0,25%. The Fed juga menilai perekonomian AS semakin stabil dengan pasar finansial yang semakin membaik.

Euro bergerak menguat atas dolar ke 1,4191 dibandingkan sebelumnya di 1,4150 dolar. Sementara dolar AS menguat atas yen ke 96,09 yen dari sebelumnya di 95,99 yen.

"Komentar yang optimistis dari The Fed dan tentang apa yang dipikirkan Bank Sentral tentang strategi keluar mendorong dolar bergerak menguat," ujar Kathy Lien dari Global Forex Trading seperti dikutip dari AFP.

Dua Ribu Rupiah

Senin, 10 Agustus 2009

Serius!! Tojengkaa! Ternyata pemerintah diam-diam telah ngeluarin uang kertas baru, yaitu Rp 2000,- Uang kertas berbahan serat kapas ini resmi diluncurkan tanggal 10 Juli 2009 kemarin.

Pecahan Rp. 2000.Di bagian depannya terpampang wajah rupawan Pangeran Antasari, sedangkan bagian belakangnya gambar sekelompok wanita lagi melakukan Tarian Adat Dayak. Uang kertas baru berukuran 141 x 65 mm ini didominasi warna abu-abu.

Uang kertas dua ribu tersebut akan berlaku sebagai alat pembayaran yang sah mulai tanggal 10 Juli 2009. Peluncuran uang kertas dua ribu yang baru itu dilakukan di Banjarmasin hari ini.

Menurut Miranda S. Goeltom "Pemilihan dan desain gambar pada uang tersebut mengacu kepada desain uang kertas sebelumnya yang bertemakan Pahlawan Nasional. Hal ini sebagai bentuk apresiasi kepada para pahlawan dan untuk turut serta melestarikan budaya bangsa,".

Untuk ciri-ciri lebih detil, silakan baca Peraturan Bank Indonesia ini.

Saya Saja belum pernah liat aslinya...
ada yang mau bagi-bagi?

Bohong...

Selasa, 04 Agustus 2009

Saya Tidak mengatakan bahwa
saya tidak mengatakan itu...
yang saya katakan adalah bahwa
saya tidak mengatakan bahwa
saya mengatakan itu...
saya menginginkan agar hal itu benar-benar jelas.

Filosofi Elang…Mari Belajar Darinya..

Rabu, 15 Juli 2009

Kawan, hari ini saya kembali bercerita..maksudku melalui tulisan ini saya kembali bercerita tentang seekor binatang yang mengagumkan..ELANG, hewan berdarah panas yang mampu terbang jauh dan dapat mencengkram mangsanya dengan cakarnya yang kuat serta paruhnya yang tidak bergigi tetapi mempunyai bengkok yang kuat untuk mengoyak daging mangsanya.

Elang adalah burung yang mampu terbang paling tinggi di dunia ini. Elang bahkan membuat sarang di ketinggian. Padahal semua tahu bahwa di ketinggian, angin selalu bertiup sangat kencang. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.

Keputusan itulah yang akhirnya menjadi pilihan bagi hidupnya.. Ketika elang berumur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang. Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan: Menunggu kematian, atau mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan selama 150 hari.

Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang , berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.

Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan. Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali.

Adakah kawan-kawan pernah sedikit merenungkan bahwasanya terkadang kita hidup dalam lingkaran pilihan yang sulit namun selalu paralel dengan sedikit kebebasan dalam memilihnya? Terkadang, kita lebih memilih untuk mempertahankan kebanggan yang selama ini membuat kepala kita berdiri tegak walaupun untuk mempertahankannya kita rela untuk mengorbankan segala cara termasuk prinsip? Terkadang kita tidak berani untuk melepaskan kenyamanan sesaat ini demi mencapai kenyamanan yang lain di masa yang akan datang.

Belajar dari kisah si Elang, betapa tidak berdayanya dia ketika harus melepaskan kebanggaannya demi mempertahankan hidup dan meneruskannya dengan lebih baik..seharusnya kita pun mampu untuk melakukan hal yang sama. Belajar mengorbankan kebanggaan kita demi mempertahankan sesuatu yang jauh lebih bermakna bagi diri kita sendiri dan orang lain di masa yang akan datang.

Sebagai manusia kita memang memiliki kebebasan untuk memilih. Namun sayangnya ada zona kenyamanan yang seringkali membatasi pilihan-pilihan hidup kita. Tetapi benarkah kita lebih menyukai kenyamanan kekinian dibandingkan kenyamanan lain.
Kenyamanan lain? Ya, ada beberapa hal yang selama ini kita tidak miliki dan sangat ingin kita miliki, tetapi itu berarti kita harus mengubah sesuatu. Cara hidup kita selama ini perlu kita ubah bila kita ingin mendapatkan sesuatu. Sedikit belajar berspekulasi menurut saya.

Kiranya dapat menjadi kisah yang inspiratif bagi kita…

Hujan kembali membasahi Makassar..

Selasa, 14 Juli 2009

Makassar nampaknya mulai gerah setelah sekian lama diguyuri dengan sinar matahari yang mencerahkan kehidupan kota ini, dan akhirnya Hujan kembali membasahi Makassar.
Setelah lelah menyinari, matahari mungkin sedikit undur diri untuk menyinari bagian bumi lainnya yang membutuhkan kehangatan darinya…

Makassar terlalu hangat, bahkan mungkin juga panas saat ini..dan akhirnya keadilan Tuhan dicurahkan saat ini, di kota Makassar. Di saat sebagian warga Makassar merindukan hadirnya tetesan-tetesan air dari langit yang merupakan rahmat bagi kegerahan ini, yang diharapkan bisa kembali menyejukkan hati para penghuni kota ini. Akhirnya, Hujan kembali membasahi Makassar..

Kala hujan jatuh dari langit, kembali kumenerawang jauh ke belakang…saat suasana perkemahan senja, saat berada di mulut gua Saripa, saat berada di bibir tebing Bantimurung, saat berada di pos IX bawakaraeng, saat berada di Lembah Ramma’, saat berada di Puncak Bulusaraung, saat berada di Kaki gunung Lompobattang. Hujan selalu menerjemahkan rasa rindu yang mendalam kepada Saat-saat seperti itu. Hujan selalu membawaku seolah berada di tempat itu, menikmati minuman hangat, cemilan, sebatang rokok , bercanda dan tertawa hangat bersama sahabat-sahabat karib. Berjam-jam Duduk dalam tenda sambil membicarakan segala kehidupan masing-masing…sungguh hangat, dan hal itu hanya terjadi di dalam tenda sambil menunggu redanya hujan. Kadang pun kami mengharapkan agar hujan tak cepat berlalu agar suasana ini tak lekas berakhir.saya selalu merindukan saat-saat seperti itu.

Kapan kembali ke gunung,wahai sahabat..?
Tak sabar ku mulai perjalanan napaktilas ini..
Tak sabar kulanjutkan petualangan ini…
Hal inilah yang mampu membuatku hidup lebih lama..
Saat seperti itulah yang membuatku bertahan untuk melanjutkan hidup..
Saya selalu merindukan saat-saat seperti itu, dan hujan kali ini selalu berhasil menerjemahkannya untukku…

Sebuah Lagu dari Ipang – Sahabat Kecil, ikut menyemarakkan suasana ini

Baru saja berakhir, hujan di sore ini
menyisahkan keajaiban, Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan, dan tetap mengaguminya..
Kesempatan seperti ini tak akan bisa dibeli

Bersamamu kuhabiskan waktu senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya…

Melawan keterbatasan walau sedikit kemungkinan
Takkan menyerah untuk hadapi, hingga sedih tak mau datang lagi

Bersamamu kuhabiskan waktu, senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna, sayang untuk mengakhirinya…
Janganlah berganti..janganlah berganti…tetaplah seperti ini..


14th July 2009

Mari Sejenak Memikirkan Kematian, Sebuah Titik di akhir kalimat...

Senin, 13 Juli 2009

Kawan, Mari sejenak memikirkan kematian…

Hari ini, sabtu 11 juli 2009..agak telat saya bangun hari ini, 11.24 WITA.begitulah penunjukan waktu yg tertera di handphoneku..sebuah pesan singkat dari seorang teman, kak lepe..begitulah,dengan nama itu saya biasa memanggilnya. Isinya pun cukup mengejutkan, sebuah kabar yg tak seorang pun di dunia ini yg berharap untuk mendengarkannya.”INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUN”.

Sebuah kabar duka, ibunda dari saudari kita DIAN telah berpulang kepada Penciptanya.
Di tengah kabar duka ini, kembali saya terhanyut akan memori-memori yg telah berlalu..betapa cepat orang yg kita sayangi berlalu dari kehidupan kita. kehilangan yang tak akan bisa dengan mudah untuk kita lupakan.

Terlalu banyak kematian yang telah kita dengarkan, dan terlalu banyak airmata yang kita tumpahkan..apakah ada daya untuk kita menolaknya? Tak kan sanggup kita untuk melawannya..tak seorang pun yg berdaya untuk menghadapinya, bahkan untuk menangguhkannya sekali pun tak ada seorang pun yg sangup untuk melakukannya. Bahkan untuk seorang superstar sekaliber MICHAEL JACKSON tak sanggup, beliau pun telah berlalu…

Kita sadar, kita tak mampu menolaknya..
Kita paham, tak ada yg abadi...

Dan itu bukan pembenaran atas ketidakberdayaan kita..segala yg bernyawa akan menemuinya. Itu sudah keputusan besar atas diri kita. Peterpan dengan bijak menuliskan “jiwa yg lama segera pergi, bersiaplah para pengganti..”
Apakah anda mampu dengan bijak menyikapinya? Menyikapi kematian, dengan sederhana dapat saya tuliskan “tak sanggupku menghadapinya, tak sanggupku ditinggalkan, tak sanggup pula ku meninggalkan..tapi kutak berdaya, ku tlah dipaksa memilih oleh-NYA..”
Tak seorang pun dimuka bumi ini yg rela untuk ditinggalkan oleh seseorang yg disayanginya. Begitu pula denganku. Namun hidup terus berjalan, suatu saat kita pun dipaksa untuk meninggalkan orang yang kita sayangi. Hidup itu akan terasa bermakna ketika kita sanggup untuk memberi makna kepada yang lainnya..sesuatu yg akan membuat orang tak sanggup untuk melupakan kita ketika kita pun berlalu meninggalkan.
Memaknai kematian akan selalu simetris dengan memaknai kehidupan kita. Betapa berharga hidup yg telah diberikan kepada kita, Dan kematian adalah pelengkap dari segala kebahagiaan tersebut. Kita pasti telah mengalami banyak kenangan akan perpisahan, dan kematian adalah pesta perpisahan terakhir kita. Dengan sederhana dapat saya tuliskan “sekarang ini kita masih menuliskan huruf per huruf, kalimat-kalimat, lembar per lembar , dalam buku kehidupan kita. Menuliskan KOMA, kemudian melanjutkan kembali catatan kita, huruf per huruf, kalimat-kalimat, lembar per lembar hingga akhirnya kita tak mampu menolak untuk menuliskan TITIK diakhir kalimat kita sebagai penutup dari segala tulisan kita dalam buku yg bercerita tentang kehidupan kita”

Semakin banyak makna yg telah kita berikan, semakin indah buku yg bercerita tentang kehidupan kita, semakin indah pula kematian yg kelak akan kita temui…sebuah kesan, hanya sebuah kesan yg akan kita tancapkan kepada mereka yg kelak akan kita tinggalkan.

Ketika menuliskan catatan ini, saya sedang mendengarkan sebuah lagu dari FREDDY MERCURI yang dengan indahnya mendendangkan “Too Much Love to Kill You..Too Much love Can Kill You…Too much Love Will Kill You, Every Time”. batinku menolak, Mr. Freddy..Too Much Love dapat membuat saya hidup sepanjang masa dalam kenangan orang-orang yang kusayangi. Dan tak akan ada yang dapat kita tinggalkan kepada mereka kecuali sebuah kesan.

Kawan, mari sejenak memikirkan kematian. Agar senantiasa kita dapat memberikan makna kepada yg lainnya. Agar senantiasa kita dapat menghidupkan diri kita dengan sebuah kesan yg kita tancapkan di hati orang-orang yg akan kita tinggalkan. Dengan begitu, semoga kita dapat untuk menemui kematian dengan indahnya.

I am sorry, Mr.Freddy..saya tak sependapat denganmu. Saya lebih memilih untuk mendengarkan sebuah lagu dari Peterpan – Tak ada yg Abadi, yang akhirnya kubiarkan mengalun di ruang dengarku hingga akhir catatan ini.

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu
Takkan selamanya, raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yg tlah memudar
Atau cinta yg tlah hilang…

Tak ada yg abadi..
Tak ada yg abadi..
Tak ada yg abadi..
Tak ada yg abadi..

Biarkan, aku bernafas sejenak sebelum hilang…

Takkan selamanya, tanganku mendekapmu
Takkan selamanya, raga ini menjagamu
Jiwa yg lama segera pergi
Bersiaplah para pengganti…

Tak ada yg abadi..
Tak ada yg abadi..
Tak ada yg abadi..
Tak ada yg abadi..

Di Udara...

Senin, 06 Juli 2009


Sebuah Lagu Untuk Sebuah Gerak..
Tanpa Takut, dan jujur untuk berani...
Inspiratif dan lugas..Menggugah bagi mereka yg merasa Muda, Berani dan Lugas
Menggelitik Bagi Mereka yg merasa Jengah dengan segala Pembodohan...




Efek Rumah Kaca - Di Udara


Aku sering diancam
juga teror mencekam
Kerap ku disingkirkan
sampai dimana kapan

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Aku sering diancam
juga teror mencekam
Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti

Ku bisa dibuat menderita
Aku bisa dibuat tak bernyawa
di kursi-listrikkan ataupun ditikam

Ku bisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan

[Reff:]
Tapi aku tak pernah mati
Tak akan berhenti


 

Most Reading

Popular Posts