Pages

Update

1.353 Meter Diatas Pemukaan Laut

Selasa, 16 Juni 2009

Sebuah Laporan Perjalanan Ke Puncak Bulusaraung

Alul dE Conan, 003/MAHESA/PENDIRI/2007

Makassar hari itu telah padat oleh kendaraan yang hilir mudik lalu lalang ketika kami berlalu meninggalkannya. 13 juni 2009 pukul 09.30 WITA, rombongan berangkat dari titik Start Tamalanrea Makassar menuju ke Gunung Bulusaraung melalui jalur Balocci Desa tompobulu kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Rombongan kali ini terdiri atas delapan orang merupakan tim gabungan antara Republik CvDw 05 dan MAHESA UNHAS dengan misi mengibarkan dua bendera di puncak gunung Bulusaraung. Adapun kedelapan orang tersebut antara lain, Kanda Amar, Kanda Iccank (kami lebih akrab memanggilnya K’Lepe), Ase', Iccank, Fandy, Othe, Arfan (dari SkyNet), dan Saya Sendiri. Karena memilih jalur balocci maka kami memilih lewat jalur tonasa I. Perjalanan yang panjang dari Makassar menuju ke desa tompobulu relative aman namun selepas perumahan Tonasa I, jalur yang dilalui menjadi ekstrim dengan lintasan pendakian yang agak terjal dengan jarak kurang lebih 7 km dari gerbang Bulusaraung hingga desa Tompobulu.



Perjalanan yang kami tempuh dengan mengendarai 4 sepeda motor, dan tepat pukul 11.00 kami tiba di desa tompobulu langsung menuju ke rumah pak Djabir (kepala desa tompobulu). Di sana kami memarkir sepeda motor kami. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, kami akhirnya sepakat untuk beristirahat sejenak dan sekedar meluruskan punggung. Pukul 12.10, kami kedatangan tambahan personil. Ahmad dan Sapril dari MAHESA UNHAS tiba dari Makassar dengan mengendarai Honda MegaPro dengan Nomor Polisi DD 2030 NR. Dengan kedatangan Ahmad dan Sapril, Rombongan akhirnya genap berjumlah 10 orang.



Setelah sedikit beristirahat, pukul 12.30 akhirnya kami meninggalkan rumah pak Djabir menuju ke POS 1. Namun, sebelumnya tak lupa kami berdoa yang dipimpin oleh Ase' selaku Leader kemudian dilanjutkan dengan berfoto di depan balai desa Tompobulu. Pukul 12.38 kami tiba di POS 1, kemudian kami lanjutkan perjalanan melewati POS 2. Perjalanan antara POS 1 dan POS 2 ini lumayan berat dengan jalur tracking yang melelahkan. Pukul 13.05 kami tiba di POS 3, karena jalur tracking yang panjang kami memutuskan untuk beristirahat di pos ini. Pukul 13.35, kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju POS 4. Lagi-lagi jalur pendakian yang panjang dengan sudut yang terjal membuat kami sedikit terhambat untuk mempercepat langkah kami. Memang benar, Walaupun tidak terlalu tinggi,tetapi gunung ini sangat cocok untuk pendakian karena jalur nya yang sangat menantang. Dan sangat cocok untuk orang – orang yang senang dengan tantangan,disinilah tempat kita menunjukkan keberanian kita.
Pukul 13.51, rombongan akhirnya tiba di POS 4 dengan tersengal-sengal, kemudian beristirahat sejenak hingga Pukul 13.55 melanjutkan perjalanan. Pukul 14.01, kami tiba di POS 5 dan beristirahat lagi sembari menunggu Ahmad dan Sapril yang sedang mengambil air di sumber air yang berjarak sekitaran 100 meter dari POS 5. Selain POS 9, POS 5 merupakan salah satu lokasi sumber air di gunung Bulusaraung. Setelah agak Fit, Ahmad dan Sapril pun telah tiba, maka kami pun kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 14.25.

Setelah POS 5, jalur pendakian pun sedikit relative lebih mudah. Pukul 14.30 kami pun tiba di POS 6, kemudian kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan tiba di POS 7 pada pukul 14.36, dan kemudian kami kembali meneruskan perjalanan hingga tiba di POS 8 pada pukul 14.45. panorama yang indah di POS 8 membuat kami tergiur untuk kembali beristirahat menikmati pemandangan yang indah di pos ini.
Tak menyia-nyiakan kesempatan kami kembali mengambil pose dan berfoto-foto di pos ini. Karena takut kemalaman, Pukul 15.04, kami kembali meneruskan perjalanan menuju POS 9 dan tiba disana pada pukul 15.17.

Setibanya di POS 9, ternyata sudah ada 2 rombongan disana. Makanya kami memilih untuk mengambil tempat tepat ditengah-tengah POS 9. Akhirnya setelah mendirikan 4 tenda, mengambil air dan menyiapkan api unggun,kami kemudian menghabiskan malam dengan berkumpul dan bercerita di dekat api unggun. Dan setelah makan malam telah siap, kami pun bersantap malam itu di depan api unggun POS 9. Selesai bersantap kemudian dilanjutkan dengan menikmati KOPI HITAM yang kami beri nama “KOPI KAPAN BOBO” dicampur dengan KOPI CARRIBIAN dan 2 sachet susu kental manis. Minum kopi malam ini sangat nikmat, selain karena menghangatkan tubuh, juga tak lain karena alunan lagu ala unplugged yang mengalir tanpa henti dari rombongan sebelah. Berbagai macam lagu telah mengisi malam itu di POS 9.”bagus memang tawwa suarana”…

Pukul 21.09, Saya Sendiri memutuskan untuk masuk tenda dan beristirahat, namun akhirnya saya terlelap dan terbangun mendadak ditengah malam. Pukul 12.01, seekor lipan berukuran jumbo, entah dari mana datangnya telah berhasil membuat kami terbangun dan keluar dari tenda. Cukup lama juga akhirnya lipan itu berhasil di keluarkan. Dan hal itu membuat mataku berat untuk tertutup lagi. Ternyata Ase' juga tak dapat lagi tertidur, akhirnya kami mencari-cari kesibukan di tengah malam. Mulai dari memperbaiki pelita dan mengisinya dengan minyak tanah, sekedar duduk bengong sambil menghisap rokok Gudang Garam Surya, hingga akhirnya kami memutuskan untuk memanaskan air dan menyeduh 2 gelas Energen Rasa Kacang Hijau. Cukup lama juga kami bercerita hingga akhirnya mata pun kembali menuntut untuk ditutup kembali. Setelah energen telah habis dari gelasnya, Pukul 02.43, kami pun kembali masuk tenda dan terlelap.

Minggu, 14 Juni 2009 pukul 08.46, setelah semuanya telah terbangun, setelah segala persiapan telah mantap, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dari POS 9 menuju ke puncak gunung Bulusaraung. Jalur dari POS 9 menuju ke puncak Bulusaraung selain membutuhkan tenaga ekstra, stamina yang mantap juga membutuhkan nyali yang bagus. Jalur yang curam dan berbatu dengan sudut kemiringan yang nyaris vertical membuat kami agak kesulitan untuk mendakinya. Beruntunglah, cuaca yang sangat cerah kali ini tidak mengaburkan pandangan sehingga kami masih bisa untuk tetap melangkah ke depan. Dan tepat pukul 09.06 akhirnya kami tiba di Puncak gunung Bulusaraung. Di puncak ini kami mendapati Tugu Tranggulasi Bulusaraung dengan keramik berwarna biru pada permukaannya. Selain itu terdapat pula sebuah menara yang diikat dengan labram pada sisi puncak Tranggulasi Bulusaraung.Tanpa menyia-nyiakan waktu kami kemudian mengambil gambar di sekitaran puncak Bulusaraung, dan tentu saja melaksanakan misi perjalanan ini yaitu mengibarkan 2 bendera (Bendera Republik CvDw 05 dan Bendera MAHESA UNHAS) di puncak Bulusaraung ini.

Pukul 10.47, akhirnya dengan mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada TUHAN sang Pemilik Alam dan makhlukNya, kami pun meninggalkan puncak ini dan segera kembali menuju ke POS 9. Ternyata perjalanan kembali ke POS 9 juga memiliki tingkat kesulitan, jalanan yang curam dengan kondisi bebatuan yang licin diakibatkan oleh lumut sehingga kami merasa perlu untuk berhati-hati dalam memilih pijakan kaki. Dan akhirnya kami berhasil tiba dengan selamat di POS 9 pada pukul 11.29.

Ternyata kondisi badan yang dalam keadaan lelah sehingga kami pun kemudian berembuk dan memutuskan untuk tidak segera turun, beristirahat sambil mempersiapkan makan siang merupakan solusi yang tepat dalam kondisi seperti itu. Untuk mengefisienkan waktu Kami pun membagi tim, ada yang memasak, ada yang mengambil air, serta ada yang membersihkan area. Cukup lama juga waktu yang kami habiskan hingga akhirnya segalanya telah beres. Setelah kami menyantap makan siang, kami pun segera berbenah dan mempacking perlengkapan.

Tepat pukul 16.25, kami pun meninggalkan POS 9. Kali ini, kami menepuh perjalanan dengan ritme yang agak cepat dan tanpa beristirahat.POS 8 kami lalui pada pukul 16.28. kemudian pada pukul 16.34,POS 7 pun kami lalui. POS 6 kami lalui pada pukul 16.43. empat menit kemudian, tepatnya pukul 16.47, dengan cara berlari dari POS 6 akhirnya kami tiba di POS 5. Dan pukul 16.51, POS 4 pun kami lewati. Kemudian tiba di POS 3 pada pukul 16.59, beristirahat hingga pukul 17.08. dan pada pukul 17.13 kami akhirnya tiba di POS 2, kemudian beristirahat lagi dan kemudian melanjutkan perjalanan pada pukul 17.19 dan akhirnya tiba di POS 1 pada pukul 17.24.

Dari POS 1 kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pak Djabir selaku Kepala Desa Tompobulu.sekitaran 30 menit kami beristirahat kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke Makassar. Kali ini perjalanan kami tempuh menggunakan sepeda motor. Namun, pada Gerbang Bulusaraung akhirnya kami singgah untuk sekedar minum kopi dan bercerita.

Dan pada pukul, 19.20 akhirnya kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Makassar dari Gerbang Bulusaraung. Dan dengan mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga akhirnya kami tiba di Makassar pada pukul 20.35. perjalanan yang sangat menantang dan disinilah tempatkan Walaupun tidak terlalu tinggi,tetapi gunung ini sangat cocok untuk pendakian karena jalur nya yang sangat menantang. Dan sangat cocok untuk orang – orang yang senang dengan tantangan,disinilah tempat kita menunjukkan keberanian kita, Di Bulusaraung 1.353 Mdpl.



Mozaik Akhir Mei

Senin, 01 Juni 2009

Sore itu, sabtu 30 mei 2009.

Ku dikejutkan oleh dering telp rumahku (yach, telp yg selama ini hening dan tak pernah berdering untuk mencariku) agak malas saya beranjak untuk menghampirinya, karena kupikir itu bukan panggilan untukku.
sebuah suara yg halus namun familiar bagiku..
"halo, ada alul?"
saya pun menjawab, :" ya, saya..siapa ini?"
(suara ini tidak asing bagiku, namun saya pun ragu untuk segera menerkanya)
dan dia pun menjawab, " masa nda kenal lagi? dah sombong skrng nich yee..."
tanpa ragu saya menyambutnya :" ooh, kamu...("_"), apa kabar?"
dia lalu menjawab : "baik..(namun datar)"
tak salah saya sekedar memberi basa-basi (busuK) untuknya..
hehehe...
dia lalu memintaku untuk menceritakan perjalanan hidupku setelah dia meninggalkanku, lalu kujawab dengan sebuah pernyataan singkat dan tentu saja diplomatis : " terlalu panjang untuk diceritakan..(dan terlalu hina untuk dikenang,hehe..)
saya pun memintanya untuk bercerita tentang dirinya, dia pun menjawab dengan singkat dan sedikit berapologi...(huff, bukan jawaban yang seperti ini yang kuharap)
kemudian ku berbicara, : "bagaimana kalo kita nda usah membahasnya lagi?"
dia lalu menjawab : "terlalu gampang untuk diucapkan, tapi sulit untuk dilupakan..iya khan?"
hahaha, saya pun tertawa.."seharusnya saya yang bilang seperti itu!!!, bagaimana perasaanmu meninggalkan ku?"
hahaha, dia juga tertawa ternyata...
jadi Ingat lagunya five minutes " jangan kau coba sakiti aku, bila kau tak ingin disakiti..tak pernah terpikirkan olehku, menduakanmu"
aku pun kembali merangkai serpihan mozaik memori itu...
aaah...ternyata "saat itu kamu mendua?"
dengan enteng dia menjawab mantap, "iya..."
hahaha, ternyata.. saya meneruskannya, "kamu culas!!!"
bagaimana selanjutnya?
dia pun berkata : "semenjak saat itu, seperti ada karma, kenapa saya selalu diduakan?"
"astaga, karma?"
"kamu percaya karma?"
" jangan bilang karma!! kita perhalus saja, causalitas menurutku..." sok ku dech..
saya pun kembali mengalihkan pembicaraan..
"kenapa nelpon kesini (telp rumah)?"
dia menjawab, "cuma nomor ini yang saya ingat!"
tak puas, saya pun kembali bertanya.."kamu nda save no hp ku?"
dai menjawab dengan sangat panjang lebar, intinya kurang lebih :"sering ka' ganti-ganti nomer, lupa kusave no hp mu)
hmmm...terus kulanjutkan pertanyaanku, "jadi sekarang baru ingat? bagussss!!! kenapa?"
singkat dia menjawab, :"kangen.."
kemudian dia melanjutkannya dengan menyuruhku menyanyi...
HAHAHA...REQUEST VIA PHONE (Sebuah cerita lama, sebuah perbuatan lama yang tak pernah kulakukan lagi)
dengan enggan saya menjawab, "nda moja dech.."
dia pun kembali meminta dengan sedikit memaksa..nada paksaan yang memaksaku tuk menurutinya..
"ok, lagunya apaa..?"
dia meminta sebuah lagu lama...
lama sekali saya tak mendengarnya, apalagi menyanyikannya.
FIVE MINUTES - SELINGKUH
"Kutahu kau cemburu, kutahu kau kecewa..bukan niatku tuk menyakiti hatimu"
"Kutahu kau mencintaiku, namun ku tlah mendua..kau tahu diriku masih mencintaimu"
"Hmm..sudah mi naa.."
dia kembali memintaku menyanyikan sebuah lagu lagi..
saya pun menjawab mantap "ok, tapi kali ini saya yang memilih lagunya"
tanpa menunggu dia menjawab, saya pun kembali memperdengarkannya sebuah lagu dari
AFGAN - SADIS
"semoga Tuhan membalas semua yang terjadi kepadaku suatu saat nanti, "
"hingga kau sadari sesungguhnya yang kau punya, hanya aku,"
"tempatmu kembali sebagai cintamu.."
dia tak menjawab apapun, dia bahkan seolah tak bergeming ketika kupanggil namanya.
kulanjutkan nyanyianku...
"hanya aku tempatmu kembali..."
dia pun bersuara.."begitu kaa..?"
saya pun berkata .."lagu ji to?"
saya melanjutkan.."kita sudah sama-sama jauh berbeda sejak kita terakhir berjumpa"
" kita sudah tak bisa melanjutkan kembali cerita lama itu.."
"entah, masihkah ada cinta dihatiku untukmu"
"entah, kapankah kudapat membuka hati untukmu"
"dihati kecilku berharap kau masih bahagian dari hidupku"
"kamu pasti sudah mendengarnya..iya khan?"
dia menjawab :"afgan lagi?"
saya pun mantap :"iya, kenapa? kamu bilang saya afgan?terima kasih..."
bwahahaha....
kemudian kulanjutkan basa-basiku (yach, hanya basa-basi yang kumiliki saat ini, basa-basi busuk menurutku, jujur..saya masih mengingat dengan jelas betapa perih saat itu, saat dia pergi..tak malu saya untuk mengakui bahwa dia memang betul-betul meninggalkanku)
kamu tahu saya sudah banyak berubah "MUDA, BEDA, dan BERBAHAYA"
walaupun masih ada yang tak bisa berubah "loyal, total, dan komitmen"
apalagi sekarang..."Lebih cepat, lebih baik"
bwahaha..JAYUZ!!!


Kurang lebih 30 menit kami ngobrol, saling bercerita dan akhirnya dia pun pamit hendak mengakhiri pembicaraan ini.
sebuah kalimat halus namun tajam bagiku meluncur dari mulutnya...
"terima kasih, atas segalanya...kita adalah korban dari masa lalu"
saya tak menyanggahnya, kubiarkan dia untuk meneruskannya..
"mari kita saling mengingatkan untuk saling melupakan"
kali ini saya memotongnya, "lebih cepat, lebih baik"
saya melanjutkan "kamu, mantan pacarku..kamu, yg kusayangi..kamu, yg berkhianat..kamu, yg terlupakan, mari kita lanjutkan hidup kita masing-masing"
dia pun menjawab :"take care.."
saya memotongnya : "lupakan nomor ini!!!"
dia kembali menjawab : "saya mencobanya, saya terus mencobanya, jaga dirimu"
"assalamu alaikum..."
kujawab :"wa alaika"
sebuah salam menjadi penutup pembicaraan kami melalui telp, pembicaraan yang sempat menyingkap kembali tirai masa lalu yang telah lama kukunci..menyusun mozaik-mozaik kecil yang telah lama tercecer berantakan.
yach, pengkhianatan cinta perdana bagiku..
btw, terima kasih atas waktu dan perjalanan hidup ini
meski saya harus berbohong kepadanya, saya akan terus mengingatnya sebagai sebuah pecahan yang berarti dalam kisahku..
"Kamu..mantan pacarku, kamu..yg kusayangi, kamu..yg berkhianat.. Kamu..yg terlupakan (bohong), mari kita lanjutkan hidup kita masing-masing"

Tuhan Bersama Orang-Orang Pemberani

Senin, 13 April 2009

Sebuah Laporan Perjalanan Ke Puncak Lompobattang

Alul dE Conan, 003/MAHESA/PENDIRI/2007

Kamis, 9 April 2009, Makassar dalam keadaan yang terik ketika kami meninggalkan Kandea menuju desa Lembangbu’ne..pukul 14.40 WITA ketika kami meninggalkan base camp MAHESA di kampus Baraya Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin menuju Desa Lembangbu’ne; desa terakhir yang terletak di kaki gunung Lompobattang. Gunung Lompobattang terletak di Kabupaten Gowa Kecamatan Tompobulu Desa Lembangbu’ne Kelurahan Sikoro. Hahaha…Kalau kita mendapatinya dalam Peta, Gunung Lompobattang dengan ketinggian 2870 Mdpl berbatasan dengan beberapa Kabupaten di Sulawesi Selatan, namun jalur yang kami tempuh kali ini adalah jalur yang umum yakni melalui desa lembangbu’ne.

Perjalanan ini kami tempuh dengan mengendarai 4 sepeda motor dan sebuah Mobil mengingat banyaknya Anggota yang ikut dalam rombongan ini. Yach.perjalanan ini adalah dalam rangka Persyaratan pertamaPengambilan Nomor Registrasi Anggota Penuh bagi Anggota Muda Kami. Adapun Anggota yang menempuh perjalanan ini adalah sebanyak 14 orang, terbagi atas 4 orang Anggota Muda yang akan mengambil persyaratan ini untuk memperoleh Nomor Registrasi Anggota Penuh; yakni: Muh.Sapril Sardi (003/MAHESA/II/AM/2009), Muammar Farouq (005/MAHESA/II/AM/2009), Fitriani Syam (006/MAHESA/II/AM/2009), dan Ayu Lestari (008/MAHESA/II/AM/2009), 5 orang Anggota Penuh dari DIKLAT I yakni: Karmani Kamar (010/MAHESA/I/AP/2008), Rio Pane (014/MAHESA/I/AP/2008), Muh.Agung Pratama (016/MAHESA/I/AP/2008), Muh.Firman (022/MAHESA/I/AP/2008), dan Reza Eka Putra (023/MAHESA/I/AP/2008), dan 5 orang Dewan Pendiri Yakni Hastomo Amien (002/MAHESA/PENDIRI/2007), Fajrul Iman Ibrahim (003/MAHESA/PENDIRI/2007), Apriansyah (004/MAHESA/PENDIRI/2007), Achmad Nasaruddin (005/MAHESA/PENDIRI/2007) dan Suhardiman Sultan (008/MAHESA/PENDIRI/2007).

Pukul 19.30 WITA, Rombongan akhirnya tiba di desa Lembangbu’ne, namun perjalanan belum selesai kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki disebabkan jalur pengerasan sehingga mobil tidak dapat mengantarkan kami ke rumah terakhir. Sementara teman-teman yang mengendarai motor dapat melanjutkan perjalanan dengan tetap berkendara. Pukul 19.52 WITA, akhirnya rombongan tiba di rumah terakhir di kaki gunung lompobattang yang kami jadi Home base kami kali ini. Rumah ini juga merupakan Base camp SAR UNHAS untuk wilayah Lompobattang. Pada saat kami tiba disana, rupanya disana telah tiba lebih dahulu 4 orang dari Pecinta Alam Satria. Namun itu tidaklah menjadi masalah, alam selalu saja bisa mempersatukan kami tentunya.

Ada pemandangan yang menarik begitu kami tiba disana, rupanya listrik belum juga menyentuh kaki gunung lompobattang sehingga suasana gelap gulita dan hanya ditemani oleh pelita menjadi suatu yang istimewa bagi kami. Tentu saja ini sangat berbeda dengan kaki gunung bawakaraeng yang desa terakhirnya suda tersentuh oleh listrik sehingga kalau malam tiba kami masih sempat untuk sekedar mencharger perlengkapan elektronik kami. Yach terpaksa kali ini kami pun bersantap malam dan tepat pukul 22.50 WITA, briefing tentang perjalanan esok hari kami laksanakan dalam keadaan temaram ditemani oleh cahaya pelita. Selepas briefing kami pun beristirahat untuk persiapan perjalanan esok.

Jumat, 10 April 2009, pukul 14.30 WITA, beberapa diantara kami nampaknya sudah terjaga dari tidurnya. Dengan suhu 14°C, beberapa diantara kami juga nampaknya masih asyik dalam mimpinya, sementara itu Anggota Muda kami nampaknya sementara bergelut dengan Dapur dan mempersiapkan sarapan bagi kami. “kami tidak mengenal Kasta terendah dalam kami, Kami bahkan tidak mengakui adanya Kasta terendah dalam kami. Karena kami satu dan bersaudara, yang tua sadar diri dan yang muda Tahu diri, kami MAHESA..” semboyan itulah yang kami gunakan dalam hubungan antar anggota MAHESA. Dan semboyan ini asli dan original dari hasil pemikiran yang mendalam dari Kami, MAHESA.

Dan akhirnya pukul 07.01 WITA, setelah berdoa bersama kami akhirnya memulai perjalanan dari home base kami di rumah terakhir desa lembangbu’ne menuju puncak Lompobattang. Sempat kami keliru ketika akan memasuki jalur namun hal itu bukanmenjadi masalah bagi kami, sinar matahari pagi sangat membantu kami untuk menerangi jalan dan menghangatkan tubuh kami yang diselimuti oleh dinginnya suhu pegunungan dan tebalnya kabut khas pegunungan. Tak lami kami berjalan diantara banyaknya bekas tebangan pohon,pukul 07.30 WITA, rombongan akhirnya tiba di POS I yang berumput dan dan berbatu. Kami sejenak beristirahat sambil menunggu teman yang sedang mengambil air. Setelah semuanya berkumpul kembali, kami pun melanjutkan perjalanan.disepanjang perjalanan menuju Pos II kami menemui sejenis tumbuhan yang buahnya sangat mirip dengan buah stroberi dan tekstur jalan yang berbatu dan berlumut.

Pukul 08.20 WITA, kami tiba di POS II dan langsung melanjutkan perjalanan menuju ke Pos III. Dalam perjalanan menuju Pos III rerumputan berjejer disisi kiri dan kanan kami ditambah lagi tekstur jalan yang sebagian sudah menanjak cirri khas pendakian dengan kemiringan sekitar 70°. Dan akhirnya Pukul 09.17 WITA kami tiba di POS III, sejenak beristirahat dan mengukur suhu ternyata di Pos ini suhu mencapai 11°.

Kembali melanjutkan perjalanan setelah melepas lelah di Pos III, kami harus melalui jalur berbatu dan berlumut, jurang dan pohon pohon yang nampaknya kering. Perjalanan menuju pos IV memang sudah mulai menanjak sehingga terkadang kami beristirahat di tempat. Pukul 10.17 WITA, kami tiba di POS IV. Pada pos ini, cukup lama kami beristirahat. Pada pos ini pula kami menyempatkan diri untuk saling menertawai mimik wajah. Mimik wajah khas pendaki yang penuh peluh dan keringat dengan tekstur wajah yang terlipat dan mengeluarkan lidah, HAHAHAHA…

Setelah beristirahat dan saling menertawai, kami pun melanjutkan perjalanan. Kembali jalur yang berbatu danberlumut kami temui hampir disepanjang perjalanan. Pemandangan yang berkabut dan jalur yang terus menanjak sangat menantang bagi kami untuk segera tiba di Pos V. dengan kemiringan sekitar 50° kami terus melanjutkan perjalanan. Dada yang bergemuruh memaksaku untuk sejenak berhenti sekedar melegakan tenggorokan dengan air dari pos I dan menyetel MP4 dan memutar HIP ROCK milik SAINTLOCO dengan volume tertinggi. ASIKKKK!!!saya berpikir, dengan ikut bernyanyi bisa membantu saya untuk memanipulasi raga dengan menyenangkan jiwa dengan berteriak sekencangnya. Dan nampaknya usahaku berhasil untuk itu. Disepanjang perjalanan, getaran MP4 melalui headset ikut menambah spiritku untuk tetap berjuang melewati jalur-jalur ini.

POS V, pukul 11.30 WITA..Sudah hampir tengah hari, kami memutuskan untuk berhenti. Pada kesempatan ini, kami menyempatkan diri untuk berpose bersama dan kembali saling menertawai…ternyata dengan saling menertawai bisa memberi kami motivasi dan hiburan yang segar di dalam suhu 20°C. usaha untuk mencari sumber air pun gagal sehingga pada jalur jalur selanjutnya kami harus menghemat pemakaian air kami. dan setelah berisitirahat selama 20 menit kami pun kembali melanjutkan perjalanan dengan pemandangan yang berkabut dengan suhu rata-rata 20°C, pepohonan yang berlumut, jalur yang menanjak dan berbatu, dengan kemiringan 25° dan tepat pukul 12.25 WITA tiba di POS VI. Jarak antar anggota tim yang saling berjauhan membuat kami harus menunggu teman yang belum tiba. Pada kesempatan ini, Nampak beberapa di antara kami tertidur pulas diatas rerumputan. Kerongkongan yang sudah mulai kering pun kembali memaksa kami untuk sekedar melegakannya dengan air putih walaupun tidak banyak yang bisa kami konsumsi mengingat jarak yang masih jauh dan belum tentu kami bisa menemui sumber air disana. Ketakutan yang terbesar adalah sumber air yang kering di depan sana membuat kami harus berhemat dalam pemakaian air.

Cukup lama kami beristirahat di Pos ini dan tepat pukul 12.36 WITA kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan dengan kondisi fisik yang parah dan dehidrasi kami tiba di POS VII pada Pukul 13.27 WITA. Cuaca yang cerah dan jalur yang semakin menanjak menambah keringnya kerongkongan kami. Pelan-pelan sekali kami bergerak maju, nampaknya fisik sudah mulai terkikis. Tak ada seorang pun dari kami yang bersuara. Edelweiss terhampar di sepanjang jalur ini. Dan matahari juga tidak malu-malu lagi bersinar. Untuk mengakali kondisi tersebut, kami menyempatkan diri untuk kembali beristirahat dan menikmati keindahan alam pada jalur ini. Tak lupa juga kami berfoto-foto. Sementara di depan sana sudah Nampak jalur menuju Pos VIII.

Jalur menuju Pos VIII memang sangatlah berat, jalur yang tak ubahnya tebing yang ditumbuhi edelweiss dan tumbuhan semak di sela-selanya. Jalur menuju Pos VIII Lompobattang mengingatkanku pada jalur menuju Pos VIII Bawakaraeng, sehingga menarik kesimpulan: “jangan-jangan Tiap Pos VIII pada setiap Gunung memang Selalu Begini…?”hahaa..Iseng-iseng menarik Hipotesis dalam keadaan fisik yang kelelahan luar biasa pastinya tidak selalu berhasil dalam metodologi penelitiannya; kenapa? Karena iseng-iseng..coba kalo serius!! Perjalanan yang ekstrim dengan tekstur yang kering dan berbatu, ditambah lagi dengan matahari yang bersinar dengan cukup terik walaupun sesekali awan menutupinya sesekali. Pukul 14.37 WITA kami akhirnya Tiba di POS VIII, tapi kami sepakat untuk meneruskan perjalanan menuju Pos IX. Pada sekitaran Pos VIII ini, kami menemukan sebuah Tugu Peringatan Alm.TRI WAHYUDI, seorang pelajar pecinta alam yang menemui ajalnya di dalam pelukan Gunung Lompobattang. Tercatat dalam tugu tersebut “ Kematian tidak dapat dipercepat dengan mendaki gunung, kematian tidak dapat pula diperlambat dengan tidak mendaki gunung, Tuhan bersama orang-orang pemberani". Semoga ArwahNya dengan tenang bersemayam di sisi Sang Pencipta. Tuhan selalu bersama Orang-orang pemberani sepertimu, wahai Tri wahyudi…

Pukul 15.30 WITA, rombongan tiba di POS IX Lompobattang. Kami pun sepakat untuk camp di pos ini. Kami pun membagi tugas untuk mendirikan tenda, melakukan pencatatan, mengambil air, dan memasak makanan untuk makan malam kami. Akhirnya kami bisa melegakan kembali tenggorokan kami dengan air yang segar dari mata air pos IX untuk memperolehnya, saudara sapril dan farouk harus turun sejauh 200 meter dari camp. Sore itu, suhu di camp Pos IX tercatat 11°C sementara matahari yang segera akan beranjak untuk digantikan sang bulan menambah keindahan suasana pos IX Lompobattang. Awan-awan yang berkilauan diterpa oleh sinar matahari sore memaksa kami untuk kembali mengambil pose untuk berfoto-foto. Suasana Sunset Lompobattang memang indah. Ditambah lagi keangkuhan tebing Lompobattang pada sisi-sisi pos IX ikut memperindah suasana sore ini. Kami banyak mengambil foto sore ini…pada Pos ini selain kami yang mendirikan camp disini, terdapat juga teman-teman dari MAESTRO UNM beranggotakan 23 orang, dari SATRIA beranggotakan 4 orang, dan MAPALA 09 TEKNIK UNHAS beranggotakan 9 orang.
Matahari pun turun untuk kemudian digantikan oleh bulan, dari kejauhan kerlap kerlip lampu kota Bantaeng sangatlah indah. Makan Malam Kami pun seolah-olah menjadi Dinner Candle Light ala Resto Mahal dan terkenal dihiasi bintang-bintang di langit malam ini. Selepas makan malam, kami pun kembali briefing untuk persiapan melanjutkan perjalanan ke puncak keesokan harinya. Dan selepas briefing, pukul 20.06 WITA kami pun masuk kedalam tenda dan beristirahat. Suhu yang tercatat 8°C menjadi alas an yang sangat kuat bagi kami untuk segera memejamkan mata.


Sabtu, 11 April 2009. Pagi-pagi sekali beberapa diantara kami sudah ada yang kembali melanjutkan aktivitas. Sementara beberapa diantara kami masih ada yang terlelap. Ada pula beberapa yang menyempatkan diri untuk berfoto. Kembali mengukur suhu, ternyata suhu pagi itu tercatat 4°C. pukul 06.39 WITA, semuanya nampaknya sudah terbangun. Setelah menikmati susu panas dan biskuit, Pukul 07.34 WITA, rombongan berdoa bersama sebelum berangkat ke puncak Lompobattang. Saudara Firman Tinggal Di Pos IX untuk menjaga Camp sementara kami ke Puncak.

Jalur menuju Puncak Lompobattang adalah jalur yang paling ekstrim sepanjang jalur lompobattang ini. Jalur yang berbatu, jalan yang menanjak, tebing yang curam sementara jurang pada sisinya harus kami lalui untuk bisa sampai di Puncak Lompobattang. Pada jalur ini pula, saya merasa nyali dipermainkan pada saat saya ditarik oleh Karmani saat akan memanjat tebing menuju pertengahan jalur. Sementara Beberapa tahun yang lalu, saya merasa nyaris tanpa kesulitan pada jalur yang sama. Benar, tak ada gunung yang boleh dipandang enteng walaupun sudah ratusan kali kita ke sana.

Dan Pukul 08.06 WITA, akhirnya kami tiba di Puncak Gunung Lompobattang (2870 MDPL). Cuaca sangat cerah, tanpa kabut. Awan putih berada di bawah kami, dari kejauhan Nampak laut dan kota Bantaeng. Di puncak kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan mengitari puncak Lompobattang dan sekedar mengambil foto sebagai dokumentasi. Ada perasaan Haru menyelimuti ketika tiba di puncak ini. Yang Oleh saudara Sapril dilaporkannya : “..sangat menyenangkan dan mengharukan perjalanan selama sebelas jam dengan segenap perjuangan dan tenaga meskipun kemarin kami kehabisan air dari pos VII sampai pos IX..”, sementara Saudara Farouk berkata: “…ini tidak gampang,tidak sembarang yang bisa…”, Fitriani Syam dan Ayu Lestari dengan harunya berucap: “…kami adalah cewek ekstensi ekonomi unhas angkatan 07 pertama yang menjejakkan kaki di puncak ini…”dan tentu saja bagi mereka, teman-teman Anggota Muda MAHESA yang melakukan pendakian Lompobattang ini adalah Puncak yang pertama bagi mereka. Suasana gembira dan haru pun melingkupi kami. Berdoa bersama pun kami lakukan dengan penuh khidmat. Dan akhirnya kami pun harus turun kembali ke pos IX.

Pukul 09.46 WITA, akhirnya kami tiba kembali di Pos IX. Kami pun kembali membagi diri, sebagian mengambil air, sebagian memasak untuk makan siang, dan sebagian lagi bersiap-siap dan melakukan packing barang-barang pribadi. Dan akhirnya setelah semuanya telah rampung, makan siang pun telah kami santap, pukul 12.27 WITA akhirnya kami meninggalkan Pos IX untuk segera kembali ke Desa Lembangbu’ne. perjalanan menuju desa Lembangbu’ne relative lebih mudah karena hanya menuruni punggungan bukit, dan penurunan. Perjalanan kembali pun menjadi relative lebih cepat disebabkan cuaca yang sangat mendukung. Tepat pukul 14.17 WITA, kami tiba di Pos IV dan sekedar beristirahat dan membuat minuman hangat. Pukul 15.17 WITA, tiba di Pos III dengan kondisi kehabisan air. Namun beberapa meter ke depan kami pun menemukan sungai dan mengisi botol kami dengan air disini. Pukul 16.36 WITA rombongan tiba di Pos II. Hari pun sudah semakin senja, untuk alas an inilah kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan mempercepat langkah kami. Dan akhirnya pada pukul 17.24 WITA, kami tiba di POS I. pada Pos ini kami bertemu dan dijamu oleh kawan-kawan dari MAESTRO UNM. Rupanya Kak Appi’ juga turut disana. Nampaknya mereka camp di pos itu sembari menantikan temannya yang masih berada di puncak Lompobattang. Setelah mencicipi hidangan yang disajikan oleh kawan-kawan dari MAESTRO UNM kami pun pamit untuk kembali melanjutkan perjalanan.


Pukul 18.11 WITA, kami tiba di Home Base kami di Rumah terakhir Desa Lembanbu’ne dengan selamat. Setelah membersihkan diri, dan Makan malam telah tersaji kami pun briefing dan melakukan evaluasi atas perjalanan kali ini dan ditemui beberapa kekurangan yang sekiranya di masa mendatang akan segera dibenahi pada kesempatan itu ditetapkan pula bahwa rombongan akan menginap semalam lagi di Home Base untuk memulihkan kondisi dan besok bisa kembali ke Makassar dengan lebih Fit. Setelah briefing dan evaluasi, anggota ada yang segera beranjak tidur, ada pula yang asik bercengkrama dengan kawan-kawan dari MAESTRO UNM yang juga menjadikan rumah itu sebagai home base mereka.


Minggu, 12 April 2009..pukul 11.57 WITA, setelah Makan siang dan melakukan packing. Kami pun siap untuk meninggalkan Home Base Kami di Desa Lembangbu’ne. setelah mengambil foto, kami pun berpamitan untuk segera kembali ke Makassar. Dalam perjalanan pulang kembali ke Makassar, saya kembali merenungkan suatu hal, mencoba untuk memaknai kalimat: “Kematian tidak dapat dipercepat dengan mendaki gunung, kematian tidak dapat pula diperlambat dengan tidak mendaki gunung, Tuhan bersama orang-orang pemberani.” Perahu itu tidak akan rusak dan karam apabila ditambatkan di dermaga, tapi bukan untuk itulah perahu diciptakan..bukan untuk ditambatkan di dermaga namun untuk menjelajahi samudra, dan Tuhan Selalu bersama Orang-orang Pemberani.


Mengutip pernyataan saudara Muh.Sapril: ada pelajaran yang kita dapatkan bahwasanya dalam setiap perjalanan terdapat hal-hal yang spiritual yang terkadang kurang kita sadari. Seandainya kita menganggap bahwa naik ke gunung itu kita memisahkan hal-hal yang bersifat spiritual, maka sama saja dengan tubuh tanpa ruh. Selain itu yang paling penting dalam perjalanan yakni kerja sama dan adanya kebersamaan pahaman jiwa dan raga bahwa dalam MAHESA ikatan emosional kita bisa terjalin erat.

Dan Tuhan Bersama orang-orang pemberani…

20 Maret 2009…

Jumat, 20 Maret 2009

Teringat lagi…
Setiap kali kuberada di penanggalan ini, kau serasa begitu dekat dariku.
Kau yang telah pergi, meninggalkan kenangan yang tak mungkin terhapus dalam pikiranku.
Dan kusadari, ku takkan mampu untuk menghapusmu, lupakanmu…..




20 Maret 2009…
Seharusnya ini tahun yang keenam aku mengucapkan selamat ulang tahun untukmu,
sama seperti tahun-tahun yang lalu…
Kau hadir mengisi hidupku meski kini kau jauh,
meskipun dirimu bukanlah yang terindah untukku….
Seandainya kamu tahu, ada dua kehilangan terbesar dalam hidupku,
dan kamu adalah salah satu diantaranya

Lagi lagi, 20 Maret 2009…
Tahun ketiga aku kehilanganmu,,,
Jikalau aku tak pernah mengenalmu, maka aku tak akan pernah bisa berdiri setegak ini.
Terima kasih masa lalu atas pencerahan ini..
Aku akan selalu hidup untuk mengingatmu…

20 Maret 2009, selamat untukmu….
Bahagia untukmu disana
Sama seperti ketika aku mendengarkan lagu ini,
sebuah lagu kesukaanmu

“Kau terbangun dari tidur panjang yang lelahkanmu
Sesali wajahmu merenta kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekati khayalmu”

“Kau harapkan keajaiban datang hadir di pundakmu
Kau harapkan keajaiban Melengkapi khayalmu”

“Kau biarkan mimpi, tetap mimpi yang melengkapi khayalmu
Kau terhenyak dan terbangunkan,
Dan harapkan keajaiban datang hadir dipundakmu”

“Kau mencari letak masa lalu yang lepaskanmu
Sesali wajahmu merenta, kisahmu terlupa
Kau sadari semua yang berjalan tlah tinggalkanmu
Dan tak dapat merangkai semua dekati khayalmu”
(Peterpan – Tertinggalkan Waktu)


Kemanapun ku pergi akan kubawa kenanganku tentangmu bersamaku…
Aku akan selalu hidup untuk mengenangmu….

Pemuda, Cinta, Alam dan Intelektualisme

Selasa, 17 Maret 2009

Sudah banyak yang tahu, pemuda adalah sebagai generasi pelanjut yang kelak akan mewarisi kekayaan kebudayaan maupun roda pemerintahan suatu bangsa. Dan tak dapat di pungkiri pula bahwa, ditangan pemudalah generasi terdahulu telah menitipkan amanah yang teramat besar, yaitu alam yang kaya raya beserta kehidupan didalamnya. Sejenak merunut kebelakang, kekayaan alam yang melimpah ruah telah memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan dan peradaban manusia. sejarah manusia pun tidak dapat dipisahkan dari alam. Sejak zaman prasejarah dimana manusia berburu dan mengumpulkan makanan, alam adalah "rumah" mereka. Ilmu telah ada di alam dan Ilmu yang ditemukan oleh manusia dan menjadi pengetahuan bagi manusia agar dapat mengangkat derajat manusia dari sekedar (bentuk) manusia menjadi manusia yang utuh (hakiki). tantangan alam, tantangan kehidupan serta tantangan lingkungan sosial telah mengawali terciptanya kebudayaan dan ketika alam dan kebudayaan telah bersatu, sejak saat itulah sejarah pencinta alam pun dimulai.

Sejarah Pencinta Alam Indonesia

Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu "Perkumpulan Pentjinta Alam"(PPA). Berdiri 18 Oktober 1953. PPA merupakan perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci, terlepas dari 'sifat maniak'yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam corak negatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta terhadap alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang perkumpulan ini tak berumur panjang. Penyebabnya antara lain faktor pergolakan politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di akhir tahun 1960. Awibowo adalah pendiri satu perkumpulan pencinta alam pertama di tanah air mengusulkan istilah pencinta alam karena cinta lebih dalam maknanya daripada gemar/suka yang mengandung makna eksploitasi belaka, tapi cinta mengandung makna mengabdi. "Bukankah kita dituntut untuk mengabdi kepada negeri ini?."
Kemudian diera 60-an, pencinta alam pun telah merambah kampus sejak kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan dewan mahasiswa dan senat mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Adalah Soe Hok Gie yang mula-mula mencetuskan sebuah organisasi yang mewadahi mahasiswa yang tulus untuk membuang energi mudanya dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung. Organisasi ini pun dinamakan MAPALA yang merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Selain itu Mapala juga berarti berbuah atau berhasil.

Masalah-Masalah yang mendasar


Kita tidak bisa lepas bahwa konteks pencinta alam yang sebenarnya adalah sebuah studi tentang keterikatan konsep ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Diurai dari unsur penyusun katanya, maka terdapat dua unsur kata yakni pencinta dan alam. Dari kata pencinta maka kita akan menemukan makna kedamaian yang diambil dari kata cinta. Maka pencinta alam harus senantiasa untuk menjaga tutur kata, prilaku, dan pola pikir dalam berinteraksi dengan kehidupan sosial. Sedangkan dari kata alam maka makna yang bisa kita petik yaitu kehidupan ataupun lingkungan tempat manusia berpijak. Untuk itu,pencinta alam harus senantiasa memberikan nuansa kedamaian dalam lingkungan sekitar.
Tetapi ironisnya, yang terjadi kemudian adalah banyak terjadi kekeliruan-kekeliruan dan bahkan melenceng dari konteks pencinta alam yang sebenarnya. Apa saja masalah yang paling mendasar?
Seringkali penggiat-penggiat pencinta alam dengan dalih menjaga kelestarian alam membutuhkan kader-kader yang handal dan tangguh lalu kemudian melaksanakan pendidikan dasar bagi calon anggota baru yang melenceng dari konsep pendidikan yang sebenarnya. Hal itulah yang kemudian melatar belakangi lahirnya arogansi dalam bertindak bagi anggota-anggota baru sebagai manusia yang bebas sehingga kekerasan menjadi ciri khas yang sulit dilepaskan dalam tubuh organisasi kepencintaalaman. doktrinisasi pun kerap mewarnai proses pengkaderan, padahal doktrinisasi bukanlah hal yang prioritas dalam membentuk kepribadian anggotanya.
Sebagaimana yang telah ketahui bahwa konsep pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia. Jadi dengan sendirinya itu cukup menjelaskan bahwa pendidikan adalah bagaimana mengajarkan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan. Tetapi yang terjadi sekarang adalah sekedar proses transfer ilmu dengan sedikit aktualisasi diri di dalamnya. Permasalahannya, apakah benar ilmu yang kita transfer adalah benar ilmu-ilmu yang mengandung nilai-nilai manusia dan kemanusiaan ? dan jelas konsekuensi yang mesti kita tanggung adalah terciptanya kader-kader pencinta alam yang jelas-jelas melenceng dari konsep pencinta alam yang sebenarnya.
Masalah yang kemudian timbul adalah mengapa sumber daya alam yang sangat banyak akan tetapi rakyat masih saja miskin?agama dan kearifan budaya sangat beragam akan tetapi etika dan moralitas bangsa sangat menyedihkan? pakar lingkungan sangat banyak akan tetapi kondisi alam dan lingkungan sangatlah menyedihkan? mengapa semakin banyak organisasi pencinta alam yang bermunculan akan tetapi Alam tempat beraktivitas semakin rusak? Solusi apa yang dapat diberikan?
Ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah dimanakah pencinta alam? begitupun dengan para petualang yang menggunakan alam sebagai medianya yang bahkan tak jarang aktivitas tersebut berakhir dengan terjadinya tindakan yang justru sangat menyimpang dari makna sebagai pecinta alam, misalkan terjadinya praktek-paktek vandalisme. Inilah sebenarnya yang harus di kembalikan tujuan dan arahnya sehingga jelas fungsi dan gerak pun bukan hanya sebagai ajang hura-hura belaka. Dan tak salahlah suatu ungkapan, jika ingin mengubah dunia maka mulailah dengan memperbaiki cara berpikir. Potret buram pencinta alam haruslah segera berganti.

Adventure, Environment, Intelektual

Akhir-akhir ini dimana degradasi lingkungan dirasa semakin parah, maka peran pencinta alam sangat penting untuk membantu melestarikan lingkungan. Untuk melengkapi perannya sebagai pewaris yang kelak akan mewarisi kekayaan kebudayaan maupun roda pemerintahan suatu bangsa, sebagai pemegang amanah yang teramat besar, dan sebagai penjaga kelestarian serta keseimbangan lingkungan hidup, maka pencinta alam dituntut untuk mengupgrade ilmu dan pengetahuan dan minat serta niat yang tulus untuk selalu belajar, menambah pengetahuannya bukan hanya pengetahuan dalam hal-hal yang menyangkut tentang outdoor skill saja, tetapi juga harus ber-etika dan ber-intelektual. Seorang pencinta alam yang notabene juga adalah seorang Manusia yang memiliki akal dan insting, rasional dan instinctive, bebas dan memiliki tanggung jawab, perilakunya berkembang dan dinamis dituntut untuk selalu mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Selain itu, seorang pencinta alam sebagai manusia yang rasionalis, analitik, kritis, universal, dan sistematis dituntut bukan hanya menguasai hutan belantara, tebing yang terjal, laut yang dalam, serta gunung yang tinggi saja tetapi juga haruslah paham dan menguasai medan kehidupan manusia sebenarnya yang dinamis dan penuh dengan tantangan. Dan untuk itu dibutuhkan sisi Intelektual untuk menjembatani dan melengkapi sisi environmental dengan sisi adventurer dalam pribadi seorang pencinta alam.
Pencinta alam sebagai organisasi intelektual dengan gerakan enviromentalisme bermental adventure yang berjuang keras dalam menjaga keseimbangan alam ini sebagai satu gerakan untuk masa depan akan lebih berarti tindakannya dengan komitment dan loyalitas yang tinggi dari anggotanya. Sebuah harapan untuk mengembalikan keseimbangan alam ini, perbedaan pola fikir dan arah gerak environment dengan adventurer dijembatani oleh sisi intelektualis para anggotanya yang merupakan spesialisasi dan menjadi ciri dari sosok pemuda yang memahami pentingnya menjaga, memelihara, melindung serta melestarikan alam Tanah Air tercinta ini dan melakukannya secara aman dan tertib.. bukanlah suatu kemustahilan ketiga sisi tersebut bersatu untuk masa depan lingkungan hidup Indonesia sehingga terciptanya lingkungan hidup yang seimbang, stabil dan bermanfaat bagi kehidupan sekarang dan masa depan.
Dan mengutip pernyataan dari Sir John Ford, mantan Duta Besar Inggris Untuk Indonesia, “Sebuah Negara yang memiliki kaum muda yang mencintai alam yang gemar bertualang (mendaki gunung, mengarungi sungai, dll) tidak akan pernah kekurangan Pemimpin”.
Ayo Pemuda, sekarang waktunya berbenah (packing), puncak gunung sudah terlihat....

Senandung pagi hari...

Hari ini jam 10:15
Masih di Makassar, pagi menjelang siang..asap knalpot langsung memenuhi langit makassar pagi ini. sulit untuk membayangkan makassar tanpa asap, debu dan polusi ini...semakin sulit untuk membayangkan.
belum lagi macet yg melanda setiap sudut kota makassar, yach..Makassar telah memenuhi salah satu syarat untuk menjadi kota megapolitan...hehehe, MegaPOLUTAN? (Mega yg dalam aksara bugis = Banyak) (Polutan = Penyebab Polusi)???
aah, tak perlu pusing memikirkan akronim itu..?
tak perlu larut dalam permainan kata-kata itu..!
setiap orang sedang sibuk dengan rutinitasnya masing-masing...
setiap orang sedang menuliskan huruf demi huruf membentuk kalimatnya masing-masing, melengkapinya dengan koma, sehingga akhirnya menuliskan titik pada akhir kalimat hidupnya?
setiap orang sudah menjadi orang lain bagi orang yang lainnya...
tak ada lagi solidaritas!!!
kawan hanyalah kawan jikalau kawan se-visi denganku,kawan!!!
sahabat hanyalah sahabat jikalau sahabat se-misi denganku, sahabat!!!
saudara hanyalah saudara jikalau saudara se-rahim denganku, saudara!!!
KEPENTINGAN yang merupakan kawan, sahabat, sekaligus saudara bagi sejuta umat yang hidup di kota ini, Makassar!!!
tak ayal lagi, terpenuhi pula syarat yang lainnya bagi Makassar untuk menjadi kota MEGAPOLITAN!!!


haaah....mana lagi..?
haaah....ada lagi..?
mana, syarat yang lain?
ada, syarat yang lain..?
fly-over? penggusuran? pilkada? pilcaleg? pil-pil yang lain?
mana?
mana?
ada-ada saja..
dan terakhir, Makassar hanyalah Makassar..semoga masih Makassar.

Sebuah Lagu Tentang Akuntansi Manajemen

Kamis, 12 Maret 2009

Fakultas Ekonomi UNHAS
Jumat, 20 Februari 2009
09.41 WITA

Kuliah Pagi...kuliah di awal sebuah hari yg cerah untuk jiwa yang SAKIT.
di sebuah ruangan kelas "FIS II 204", Mata Kuliah AKUNTANSI MANAJEMEN. topik pembahasannya hari ini adalah Variabel Cost, yang ngajar Pak Syamsuddin.

Ampun, Ngga Masuk Akal!!! bukan karena ngga bisa dibuktikan secara empiris, tetapi karena ngga ada rumus maupun teori yang bisa masuk meluncur dengan lancar ke dalam otakku...ruangan sempit +/- 60 orang, penuh sesak, AC Stylenya Only, panas dan sesak!!!

Pak Syamsuddin bilang, semakin banyak hidung yang isap oksigen semakin sesak pula ruangan ini. duh, kasihan banget si hidung pesek, oksigen malas untuk masuk kedalamnya, bwahahaha..haha...

ruangan semakin HOT, kala detik berganti menit, kala soal latihan dipaparkan di papan..
diriku bengong dan melongo
daripada keliatan bengong, skalian menjaga gengsi , mendingan Spek-spek nulis...seakan-akan nulis soal padahal...dapat tulisan di cover buku tulisx Jun, tulisanx kayak gini :

I Like to sing
do you like it too?

okay, i will sing a beautiful song
about the peace soul, best friend, and love story

lets sing with me!
we will have happiness together
play the music, please!


jadi ingat lagu ini :

"Seandainya sahabatku dari luar angkasa
apa yg terjadi, oh..mungkinkah
sejenak bintang utara, bermain dengan air
mengitari planet saturnus, bersama-sama"

"kata-kata yang indah, tidaklah perlu..
sungguh menyenangkan hati, hingga waktupun terlupakan"

"planet venus yg indah, seperti dari emas
tempat yg paling indah yang pernah kucapai"


09.58 WITA, Jun bilang : " sudah2 mi, habis mi waktu....yach sudah, kuakhiri tulisan ini dengan ucapan :


WASSALAM

haha..hihi..

Ehem...

Saya Punya 2 ekor Kelinci...
yang Satu Saya beri nama "MUKA",
yang Satunya lagi Saya Beri Nama "PANTAT"..

si MUKA Saya kasih ke kamu,
sedangkan si PANTAT saya pelihara sendiri..

Tapi tak disangka, MUKA mu mati duluan!!!
saya sedih sekali,
setiap kali saya liat PANTATku,
saya slalu teringat sama MUKAmu....

seandainya MUKAmu masih ada,
pasti sudah sebesar PANTATku...

Aku Pasti Kembali...

Makassar,...
Malam hari lebih gelap daripada yang kuperkirakan. dalam malam seperti ini kita jadi lebih sering mendengar makna kehidupan yang mendalam..
Sekarang ruang dan waktu berdiri di antara kita ; akan kulangkahi batas yang memisahkan kita selamanya dari kehidupan kecil kita.
Sekarang aku pun telah mengerti, bahwa aku telah menemukan jalan pulangku padamu pada saat-saat yang akan membawaku pergi darimu selamanya.
Apakah kamu juga mau untuk mengerti?
Aneh, orang-orang menghargai sesuatu hanya ketika ia akan kehilangan sesuatu itu...
Apakah kamu juga seperti itu?
Jarak yang jauh diantara kita seharusnya bisa di dekatkan dengan jembatan dari hati ke hati.
Sekarang waktunya bagiku untuk menyeberangi jembatan itu, dan aku harus berani menyeberanginya. ulurkan tanganmu, hingga perjalananku untuk menyeberanginya tidaklah terasa terlalu berat; itupun jika kamu berkenan.
Aku telah mengerti, bahwa kalimat-kalimat terakhir ini akan berangkat menujumu setelah kulangkahi batas-batas yang memisahkan kita.
Dan sekarang telah tiba waktuku untuk segera menyeberanginya; ulurkan tanganmu, sehingga tiada lagi ruang dan waktu diantara kita; sehingga tiada lagi yang memisahkan kita ketika kita akan melangkahkan kaki dari kehidupan kecil kita menuju kehidupan besar yang lebih baik, bersama..dan terima kasih telah mempercayakan kepadaku.


"aku hanya pergi tuk sementara,
bukan tuk meninggalkanmu selamanya,
aku pastikan kembali pada dirimu,
tapi kau jangan nakal,
aku pasti kembali..."

Sejarah Fakultas Ekonomi UNHAS

Jumat, 13 Februari 2009

Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin didirikan pada tanggal 8 Oktober 1948 sebagai cabang dari Universitas Indonesia, Jakarta. Fakultas Ekonomi merupakan fakultas pertama dibuka bersama dengan Fakultas Hukum dan Kedokteran Unhas.
Fakultas Ekonomi terdiri dari 3 jurusan, yakni: Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi dengan jumlah alumni sampai sekarang adalah 9.618 orang.

adapun program studi yang dibangun :
- Ilmu Ekonomi & Studi Pembangunan
- Manajemen
- Akuntansi
- Program Ekstensi
- Program Diploma

Info lebih lanjut : klik disini

Profil Singkat Sejarah Universitas Hasanuddin

Mengawali berdirinya Universitas Hasanuddin secara resmi pada tahun 1956, di kota Makassar pada tahun 1947 telah berdiri Fakultas Ekonomi yang merupakan cabang Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Jakarta berdasarkan keputusan Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda Nomor 127 tanggal 23 Juli 1947. Karena ketidakpastian yang berlarut-larut dan kekacauan di Makassar dan sekitarnya maka fakultas yang dipimpin oleh Drs L.A. Enthoven (Direktur) ini dibekukan dan baru dibuka kembali sebagai cabang Fakultas Ekonomi UI pada 7 Oktober 1953 di bawah pimpinan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk. Fakultas Ekonomi benar-benar hidup sebagai cikal bakal Universitas Hasanuddin setelah dipimpin acting ketua Prof. Drs. Wolhoff dan sekretarisnya Drs. Muhammad Baga pada tanggal 1 September 1956 sampai diresmikannya Universitas Hasanuddin pada tanggal 10 September 1956.

Di saat terjadinya stagnasi Fakultas Ekonomi di akhir tahun 1950, Nuruddin Sahadat, Prof. Drs. G.J. Wolhoff, Mr. Tjia Kok Tjiang, J.E. Tatengkeng dan kawan-kawan mempersiapkan pendirian Fakultas Hukum swasta. Jerih payah mereka melahirkan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading yang di bawah ketuanya Prof. Drs. G.J. Wolhoff tetap berusaha mewujudkan universitas negeri sampai terbentuknya Panitia Pejuang Universitas Negeri di bulan Maret 1950. Jalan yang ditempuh untuk mewujudkan universitas didahului dengan membuka Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat cabang Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) yang resmi didirikan tanggal 3 Maret 1952 dengan Dekan pertama Prof. Mr. Djokosoetono yang juga sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI). Dilandasi semangat kerja yang tinggi, kemandirian dan pengabdian, Fakultas Hukum yang dipimpin Prof. Dr. Mr. C. de Heern dan dilanjutkan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk, dalam kurun waktu empat tahun mampu memisahkan diri dari Universitas Indonesia dengan keluarnya PP no. 23 tahun 1956 tertanggal 10 September 1956.

Langkah usaha Yayasan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading untuk membentuk Fakultas Kedokteran terwujud dengan tercapainya kesepakatan antara pihak Yayasan dengan Kementerian PP dan K yang ditetapkan dalam rapat Dewan Menteri tanggal 22 Oktober 1953. Berdasarkan ketetapan tersebut dibentuklah Panitia Persiapan Fakultas Kedokteran di Makassar yang diketuai Syamsuddin Daeng Mangawing dengan Muhammad Rasyid Daeng Sirua sebagai sekretaris dan anggota-anggotanya yaitu J.E. Tatengkeng, Andi Patiwiri dan Sampara Daeng Lili. Pada tanggal 28 Januari 1956, Menteri P dan K Prof. Mr. R. Soewandi meresmikan Fakultas Kedokteran Makassar yang kelak berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin seiring dengan diresmikannya Universitas Hasanuddin pada tanggal 10 September 1956.

Perjuangan dan tekad masyarakat Sulawesi Selatan untuk melahirkan putra bangsa yang berpengalaman teknik mencapai keberhasilannya ketika menteri P dan K RI mengeluarkan SK No. 88130/S tertanggal 8 September 1960 perihal peresmian Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang diketuai lr. J. Pongrekun dan sekretaris lr. Ramli Cambari Saka dengan tiga departemen Sipil, Mesin dan Perkapalan. Pada tahun 1963 menyusul terbentuk Departemen Elektronika dan Arsitektur dan lengkaplah Fakultas Teknik sebagai fakultas yang ke-4.

Mendahului SK Menteri PP dan K tanggal 3 Desember 1960 No. 102248/UU/1960 perihal Pembentukan Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, telah terjadi “peleburan” beberapa unit Program Kursus B.1 dari Yayasan Perguruan Tinggi Makassar ke Universitas Hasanuddin. Yayasan yang diketuai oleh Syamsuddin Dg Mangawing beranggotakan antara lain Prof. G.J. Wolhoff ini adalah pecahan Universitas Sawerigading yang dipimpin oleh Nuruddin Sahadat. Peristiwa “peleburan” Program Kursus B.1 Paedagogik, Sastra Timur dan Sastra Barat ke UNHAS pada tanggal 2 Nopember 1959 tersebut menjadi cikal bakal Fakultas Sastra yang secara resmi terbentuk sesuai SK menteri PP dan K tanggal 3 Nopember 1960.

Menyusul “kelahiran” Fakultas Sastra, lahirlah Fakultas yang ke - 6 yakni Fakultas Sosial Politik sesuai dengan SK Menteri P & K tertanggal 30 Januari 1961 No. A. 4692/U.U.41961, berlaku mulai 1 Februari 1961. Pada awalnya fakultas ini merupakan Perguruan Tinggi Swasta yang bernama Fakultas Tata Praja Universitas 17 Agustus 1945 yang didirikan oleh Mr. Tjia Kok Tjiang yang kelak setelah penegeriannya menjadi pimpinan fakultas didampingi Mr. Sukamto sebagai sekretaris. Pada tanggal 15 Nopember 1962 Mr. Sukamto diangkat sebagai Dekan dan Abdullah Amu menjadi Sekretaris.

Di masa kepemimpinan Rektor A. Amiruddin berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0266/Q/1977 tanggal 16 Juli 1977 Fakultas Sastra diintegrasikan ke dalam Fakultas limu Sosial Budaya bersama Fakultas Ilmu Sosial Politik dan Fakultas Ekonomi. Hal yang sama juga terjadi atas Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA yang diintegrasikan menjadi Fakultas Sains dan Teknologi terkecuali Fakultas Hukum yang tidak “rela” berintegrasi dengan Fakultas Ilmu - ilmu Sosial Budaya. Berselang enam tahun kemudian yakni pada tahun 1983 pengintegrasian ini dicabut dengan keluamya PP No. 5 Tahun 1980 yang disusul dengan SK Presiden RI No. 68 Tahun 1982.

Melalui kerjasama dengan IPB Bogor dan atas permintaan Rektor Prof. Arnold Mononutu terbentuklah Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Pertanian yang beranggotakan Prof. Dr. A. Azis Ressang, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB dan lr Fachrudin, asisten Akhli Fakultas Pertanian IPB. Kerjasama Prof. Ressang dkk dengan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia dan IPB membuahkan SK Menteri PTIP RI Prof. Dr. lr. Toyib Hadiwidjaya tertanggal 17 Agustus 1962 dan secara resmi Fakultas Pertanian menjadi fakultas yang ke-7 dalam lingkungan Universitas Hasanuddin.

Gubernur Andi Pangerang Petta Rani dalam rapat tanggal 11 Maret 1963 menunjuk lr. Aminuddin Ressang sebagai ketua sub - panitia kerja Pembentukan Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam (FIPIA) resmi terbentuk berdasar surat kawat Menteri PTIP tanggal 8 Agustus 1963 No. 59 1 BM/PTIP/63 disusul SK Menteri No. 102 Tahun 1963 berlaku Tanggal 17 Agustus 1963.
Pada tahun 1963 dibentuk Panitia Pendiri Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan di Makassar yang diketuai Syamsuddin Dg Mangawing dengan anggota Andi Pangerang Petta Rani, Drh. A. Dahlan dan Andi Patiwiri. Pada tanggal 10 Oktober 1963 berdiri Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) yang berstatus swasta didekani oleh Drh. Achmad Dahlan dengan Pembantu Dekan I, II masing - masing Drh. Muh. Gaus Siregar dan Andi Baso Ronda, B. Agr.Sc. Terhitung mulai tanggal 1 Mei 1964 fakultas swasta tersebut dinegerikan menjadi Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin meialui SK Menteri PTIP No. 37 11964 Tanggal 4 Mei 1964.

Pendidikan Dokter Gigi berdiri pada tanggal 23 Januari 1969 sebagai hasil kerjasama antara Universitas dengan TNI - AL sebagai hasif rintisan Laksamana Mursalim Dg Mamanggun, S.H. , Rektor Unhas Let.Kolonel Dr. M. Natsir Said, S.H. serta Drg. Halima Dg Sikati dan diberi nama Institut Kedokteran Gigi Yos Sudarso. Pada tahun 1970 lnstitut ini resmi menjadi Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin dan selanjutnya menjadi Fakultas Kedokteran Gigi Unhas pada tahun 1983.
Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) didirikan pada tangggal 5 Nopember 1982 yang pada awalnya menerima mahasiswa tamatan Diploma Tiga Kesehatan dan nanti pada tahun 1987 FKM Unhas menerima tamatan SMA. FKM merupakan fakultas yang ke-11 dalam lingkungan Unhas.

Sebagai realisasi dari pengembangan Pola Ilmiah Pokok (PIP) yang menjadi rujukan orientasi lembaga pendidikan tinggi di Indonesia, maka pada tahun 1988 UNHAS secara resmi membuka program Studi Ilmu Kelautan dengan SK Dirjen Dikti No.19/Dikti/Kep/1988, tanggal 16 Juni 1988. Pada awalnya karena belum ada wadah yang tepat program tersebut berstatus lintas fakultas dan langsung dibawahi rektor. Mengingat sifatnya yang berorientasi kelautan, program ini pada akhirnya dibentuk menjadi Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan dengan menggabungkan jurusan Perikanan ke dalamnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.036/0/1996, tanggal 29 Januari 1996.

Pada Dies Natalis yang ke - 25, 17 September 1981 Presiden RI Soeharto meresmikan Kampus Tamalanrea yang pada awalnya dirancang oleh Paddock Inc., Massachustts, AS dan dibangun oleh OD 205, Belanda yang bekerjasama dengan PT. Sangkuriang Bandung di atas tanah seluas 220 Ha.

Sejak dikeluarkannya SK Menteri PP dan K No. 3369/S Tanggal 1 1 Juni 1956 terhitung mulai 1 September 1956 dan dengan PP No. 23 Tanggal 8 September 1956, Lembaran Negara No. 39 Tahun 1956 yang secara resmi dibuka oleh Wakil Presiden RI Drs. Moh. Hatta pada tangggal 10 September 1956, UNHAS pernah dipimpin oleh sejumlah Rektor yaitu:

1. Prof. Mr.A.G. Pringgodigdo 1956 - 1957
2. Prof. Mr. K.R.M.T. Djokomarsaid 1957 - 1960
3. Prof. Arnold Mononutu 1960 - 1965
4. Let. Kol. Dr. M. Natsir Said, S.H. 1965 - 1969
5. Prof. Dr. A. Hafid 1969 - 1973
6. Prof. Dr. Ahmad Amiruddin 1973 - 1982
7. Prof. Dr. A. Hasan Walinono 1982 - 1984
8. Prof. Dr. Ir. Fachruddin 1984 - 1989
9. Prof. Dr. Basri Hasanuddin, M.A 1989 - 1997
10. Prof. Dr.Ir. Radi A. Gany 1997 - 2006
11. Prof. Dr.dr. Idrus A. Paturusi, Sp.BO 2006 - Sekarang

Selayang Pandang...

Selasa, 03 Februari 2009


ARTI LAMBANG WOSM ( The World Organization of the Movement )
1. Kompas : Melambangkan suatu peringatan bagi Pandu/ Pramuka agar selalu berbuat kebenaran dan dapat dipercaya seperti fungsi kompas, serta tetap menjaga cita-citanya dan perannya sebagai penunjuk jalan.
2. Treefoil / Bunga dengan Tiga Ujung : Melambangkan tiga janji Pandu / Scout Promise
3. Dua Bintang : melambangkan anggota Pandu/ Pramuka berupaya untuk dapat memberi penerangan dan menolong dalam kebenaran dan pengetahuan.
4. Tali melingkar dengan ujung membentuk simpul mati : melambangkan bahwa sesama Pandu/ Pramuka mengadakan hubungan persahabatan dan persaudaraan antar Pramuka di seluruh dunia.
5. Warna : Putih melambangkan jiwa yang berhati suci, sedangkan warna dasar ungu melambngkan bahwa Pandu/ Pramuka memiliki ketrampilan kepemimpinan dan suka menolong orang lain.




ARTI LAMBANG WAGGGS ( The World Association of Girl Guide and Girl Scout )
1. Simbol berwarna emas dengan latar belakang biru cemerlang, melambangkam matahari yang menyinari anak di dunia.
2. Tiga daun melambngkan tiga Janji Pandu/ Pramuka Puteri.
3. Tangkai berbentuk melingkar melambangkan cinta kemanusiaan.
4. Jarum kompas, melambangkan selalu mentaati janji dan ketentuan moral.
5. Motto WAGGGS adalah ‘ Sedia ‘ / ‘ Be Prepare ‘

Catatan : Bahwa sejak tahun 2001, Gerakan Pramuka utri Indonesia sudah tidak lagi menjadi anggota WAGGGS, dengan demikian tanda tersebut tidak dipergunakan lagi.
 

Most Reading

Popular Posts